LONDON – Petenis nomor satu dunia, Jannik Sinner, melaju ke babak perempat final Wimbledon 2025 dengan cara yang tidak ia harapkan. Dalam pertandingan babak 16 besar melawan Grigor Dimitrov di Centre Court, Senin (7/7), Sinner dinyatakan menang setelah lawannya mundur akibat cedera otot dada.
Pertandingan yang awalnya berlangsung ketat dan intens berubah menjadi momen emosional ketika Dimitrov tiba-tiba tersungkur kesakitan di set ketiga. Saat itu, skor imbang 1–1 dalam set dan pertandingan sedang memanas. Namun, petenis asal Bulgaria tersebut terlihat memegangi dada kirinya dan memanggil tim medis.
Sinner, yang sempat mendapatkan perawatan karena kelelahan sebelumnya, menunjukkan rasa empati dan menghampiri Dimitrov saat pertandingan dihentikan. Keputusan mundur dari Dimitrov pun membuat Sinner otomatis lolos ke babak delapan besar.
Dalam konferensi pers usai pertandingan, Sinner menegaskan bahwa kemenangan kali ini terasa hambar baginya. “Saya tidak merasa menang. Saya hanya berharap Grigor cepat pulih. Kami berdua ingin menang lewat pertandingan yang utuh, bukan seperti ini,” ujar Sinner dengan nada prihatin.
Pertandingan itu sendiri menunjukkan kapasitas teknis dan mental kedua pemain. Dimitrov tampil luar biasa di awal laga dan sempat unggul dua set pertama dengan skor 6–3 dan 7–5. Sinner bangkit di set ketiga dan menunjukkan daya juang tinggi meski mengalami kelelahan dan terpeleset di lapangan.
Namun, nasib berkata lain. Cedera otot yang diderita Dimitrov—diduga akibat tekanan servis keras—membuatnya tidak sanggup melanjutkan pertandingan. Ia meninggalkan lapangan dengan mata berkaca-kaca, disambut tepuk tangan panjang dari para penonton yang menghargai perjuangannya.
Dengan hasil ini, Sinner melaju ke perempat final dan akan menghadapi Ben Shelton dari Amerika Serikat. Meskipun belum kehilangan satu set pun sebelum pertandingan ini, Sinner harus tetap waspada mengingat kondisi fisiknya juga diuji dalam laga melawan Dimitrov.
Turnamen Wimbledon 2025 menjadi target utama Sinner tahun ini setelah penampilannya yang konsisten di sejumlah turnamen Grand Slam. Ia kini menjadi favorit utama untuk meraih gelar, namun tekanan mental dan fisik tampaknya akan menjadi tantangan tersendiri di fase akhir kompetisi.






