Fatih Architecture Studio Banner
Fatih Architecture Studio Banner

Pembangunan Pariwisata Sumatera Barat Potensi Besar, Tantangan Lingkungan Serius

Harapan ekonomi dihadapkan pada tekanan ekologis dan regulasi yang belum optimal

Pariwisata Sumatera Barat
Pariwisata Sumatera Barat

GEMASUMATRA.COM – Sumatera Barat (Sumbar) dikenal memiliki potensi pariwisata luar biasa, dari keindahan alam hingga kekayaan budaya lokal.

Namun, pengembangan sektor ini menghadapi kendala serius, terutama soal pelestarian lingkungan dan regulasi yang kurang mendukung pariwisata hijau.

Menurut kajian akademis, meski ekonomi dan indeks kualitas lingkungan (IKLH) di Sumbar menunjukkan tren positif hingga 2023, penurunan IKLH pada 2024 menjadi indikasi adanya tekanan lingkungan akibat aktivitas pariwisata dan industri lainnya.

Baca Juga:  Banjir Bandang Maninjau Agam Terjang Puluhan Rumah

Pembangunan wisata di Sumbar telah menghadapi dampak seperti abrasi pantai, kerusakan hutan mangrove, dan pencemaran sumber air di sejumlah wilayah.

Sayangnya, kebijakan pariwisata saat ini belum mengatur secara khusus implementasi “green tourism” atau konsep destinasi ramah lingkungan yang berkelanjutan.

Sejumlah objek wisata di Sumbar mengalami kerusakan karena minimnya perawatan dan kurangnya pengelolaan.

Rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian alam turut memperparah kondisi tersebut.

Baca Juga:  Penindakan PETI di Kampar: 7 Rakit Diamankan

Tercatat, kunjungan wisatawan ke Sumbar meningkat tajam, dari sekitar 4,8 juta orang pada 2021 menjadi lebih dari 11 juta kunjungan pada 2023.

Lonjakan ini memberi tekanan tambahan pada lingkungan wisata alam seperti Alahan Panjang, Pesisir Selatan, dan Kepulauan Mentawai.

Kelemahan lain adalah terbatasnya infrastruktur pendukung seperti sistem pengelolaan sampah, fasilitas sanitasi, serta jalur wisata yang berkelanjutan.

Kondisi tersebut mengakibatkan dampak lingkungan seperti erosi, penumpukan sampah, dan tekanan terhadap habitat lokal.

Baca Juga:  Kebun Sawit PT TBS di Tapanuli Tengah Disegel KLH Pasca Banjir

Meski begitu, pemerintah dan masyarakat lokal telah mulai melakukan langkah positif untuk memperbaiki situasi.

Pendekatan Community-Based Tourism (CBT) dan kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan komunitas dinilai penting untuk memastikan pariwisata berkembang secara inklusif dan berkelanjutan.

Upaya seperti penguatan kesadaran lingkungan, promosi budaya lokal, dan peningkatan kapasitas pelaku wisata melalui pendidikan lingkungan juga disebut sebagai strategi krusial ke depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *