[LAMPUNG SELATAN], Senin, 5 Januari 2026, 10.30 WIB — Arus balik Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 dari Sumatra menuju Jawa dilaporkan berjalan relatif stabil. PT ASDP mencatat 647.898 penumpang dan 161.695 kendaraan menyeberang dari Sumatra ke Jawa sejak H-10 (15 Desember 2025) hingga H+9 (3 Januari 2026), dengan Pelabuhan Bakauheni sebagai simpul utama yang dirasakan langsung warga Lampung dan pengguna jalur Trans-Sumatra.
Dalam catatan ASDP yang dikutip media nasional, tren perjalanan tahun ini disebut lebih moderat dibanding periode sebelumnya, dengan distribusi pergerakan yang relatif merata. Secara kumulatif, penyeberangan dari Sumatra ke Jawa melalui Bakauheni tercatat naik tipis dibanding periode yang sama tahun lalu.
Untuk pembacaan harian di lapangan, data posko 24 jam pada Sabtu (3/1) menunjukkan arus balik mulai menguat. Total penumpang yang menyeberang melalui lintasan Bakauheni dan pelabuhan pendukung mencapai 40.131 orang, disertai peningkatan pergerakan kendaraan berbagai golongan.
Salah satu penjelasan dari pihak ASDP terkait karakter arus balik tahun ini adalah pertimbangan kalender dan cuaca. Dalam keterangan tertulis yang dikutip media, ada faktor “cuaca ekstrem” dan jarak libur yang berdekatan dengan agenda besar berikutnya sehingga sebagian masyarakat menunda perjalanan.
Dampak bagi warga Sumatra—khususnya Lampung, Sumatera Selatan, dan pengguna Tol Trans-Sumatra—terlihat pada kebutuhan perencanaan waktu tempuh menuju Bakauheni. Penumpang yang membawa keluarga, kendaraan pribadi, maupun pelaku logistik memerlukan kepastian jadwal kapal, pengaturan antrean, dan kondisi akses jalan menuju pelabuhan. Pada periode arus balik, keterlambatan beberapa jam dapat berimbas pada biaya operasional (bahan bakar, konsumsi, hingga pengiriman barang) bagi pelaku usaha kecil dan pengemudi angkutan.
Selain penumpang, tren kendaraan logistik menjadi sorotan karena menjaga pasokan antarpulau. Data posko harian menunjukkan pergerakan truk masih berjalan, sekalipun kenaikannya tidak setinggi kendaraan pribadi. Ini penting bagi rantai pasok komoditas Sumatra—mulai dari hasil pertanian hingga kebutuhan pokok—yang sebagian distribusinya memanfaatkan lintasan ke Jawa.
Ke depan, pengelola pelabuhan dan pemangku kepentingan transportasi biasanya menggunakan evaluasi Nataru sebagai bahan perbaikan layanan angkutan Lebaran. Bagi warga yang masih akan menyeberang, saran praktisnya adalah menjaga kondisi kendaraan (ban, rem), menyiapkan waktu buffer menuju pelabuhan, serta mengikuti arahan petugas di titik antrean untuk mencegah penumpukan.






