[ACEH TAMIANG], Jumat, 9 Januari 2026, 19.30 WIB — Pembangunan hunian sementara (huntara) modular di Gampong Bundar, Kabupaten Aceh Tamiang, dikebut untuk menampung sekitar 80 kepala keluarga (KK) terdampak bencana. Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menargetkan penyelesaian pada awal Januari 2026 agar warga bisa segera pindah dari tenda pengungsian.
Pekerjaan huntara dilakukan di satu lokasi terpadu di Gampong Bundar, dengan konsep bangunan modular agar proses konstruksi lebih cepat. Pemerintah menilai kehadiran huntara diperlukan untuk memulihkan rasa aman, terutama bagi keluarga yang selama ini tinggal di tenda dengan ruang dan fasilitas terbatas.
Secara teknis, kawasan huntara direncanakan terdiri atas 7 blok bangunan modular hunian dan 1 blok tambahan berkapasitas 12 KK. Setiap blok dapat menampung hingga 48 orang atau 12 KK, dengan total daya tampung sekitar 336 orang dalam satu lokasi. Fasilitas pendukung yang disiapkan antara lain toilet komunal, instalasi listrik, pencahayaan, serta jaringan air bersih dan sanitasi.
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menegaskan fokus percepatan agar warga segera menempati tempat yang lebih layak. “Huntara ini dibangun agar masyarakat terdampak dapat segera tinggal di tempat yang lebih layak, aman, dan bermartabat,” ujar Dody Hanggodo.
Bagi warga Aceh Tamiang, ketersediaan hunian sementara yang lebih terstruktur diharapkan memudahkan akses layanan dasar—mulai dari kesehatan, sanitasi, hingga aktivitas belajar anak—serta mempercepat pemulihan ekonomi keluarga. Dengan kepastian tempat tinggal, keluarga terdampak dinilai lebih siap kembali bekerja dan berusaha, sembari menunggu tahapan hunian permanen.
Pelaksanaan pembangunan melibatkan Direktorat Jenderal Prasarana Strategis Kementerian PU bekerja sama dengan BUMN Karya. Pemerintah juga menyebut koordinasi penanganan bencana dilakukan bersama lembaga penanggulangan bencana, sehingga agenda pemulihan hunian sejalan dengan tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi di wilayah terdampak.
Ke depan, pemerintah menyiapkan kelengkapan sarana dasar di kawasan huntara, termasuk air bersih dan sanitasi, sembari mendorong relokasi bertahap warga dari tenda ke huntara. Warga diminta mengikuti arahan petugas di lapangan agar proses pemindahan berjalan tertib dan aman.






