MEDAN, Selasa, 3 Februari 2026, 10.53 WIB — Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) turun tajam Rp183.000 menjadi Rp2.844.000 per gram. Koreksi ini terjadi setelah reli cepat beberapa hari terakhir, dan berpotensi memengaruhi keputusan beli-jual warga di Sumatra, terutama yang mengandalkan emas sebagai lindung nilai dan tabungan.
Harga emas Antam pada Selasa (3/2) tercatat merosot dari Rp3.027.000 menjadi Rp2.844.000 per gram. Pergerakan ritel ini penting bagi pasar Sumatra karena transaksi emas—baik batangan maupun perhiasan—masih menjadi pilihan populer untuk kebutuhan simpanan, biaya pendidikan, hingga persiapan hajatan keluarga.
Selisih harga jual dan beli kembali (buyback) masih lebar. Buyback Antam turun menjadi Rp2.624.000 per gram, turun Rp9.000 dari hari sebelumnya. Untuk kanal PT Pegadaian (Persero), harga emas Galeri24 pada Selasa (3/2) tercatat Rp2.948.000 per gram (turun Rp33.000), sementara UBS Rp2.963.000 per gram (turun Rp33.000). Selisih ini menjadi catatan bagi warga yang ingin mencairkan emas dalam waktu dekat karena nilai terima bisa berbeda jauh dari harga etalase.

Di sisi global, sejumlah analis tetap menilai prospek emas masih didorong permintaan jangka menengah, meski volatilitas meningkat. Dalam catatan riset, J.P. Morgan menyebut tetap yakin pada emas di horizon menengah meski ada gejolak jangka pendek: “we remain firmly bullishly convicted in gold over the medium-term.”
Bagi warga Sumatra—termasuk pelaku UMKM toko emas di pusat-pusat perdagangan seperti Medan, Pekanbaru, Palembang, dan Padang—koreksi harga bisa memicu dua respons berbeda: sebagian pembeli menunggu harga lebih stabil, sementara sebagian lain memanfaatkan penurunan untuk menambah stok atau tabungan. Namun, keputusan transaksi tetap perlu memperhitungkan biaya tambahan (misalnya pajak pembelian), serta potongan pajak pada transaksi buyback di atas nominal tertentu, agar hitung-hitungan “untung-rugi” tidak keliru.
Dari pasar internasional, emas dunia sempat memantul lebih dari 3% setelah aksi jual tajam sebelumnya. Harga spot naik ke kisaran US$4.837,16 per troy ounce pada perdagangan Selasa, setelah sempat menyentuh level terendah hampir sebulan. Reuters juga melaporkan pasar menyoroti minimnya rilis data ekonomi akibat sebagian penutupan pemerintahan AS, sementara ekspektasi pemangkasan suku bunga bank sentral AS pada 2026 turut menjadi salah satu faktor yang dipantau pelaku pasar.

Ke depan, warga yang memantau harga emas di Sumatra dapat memperhatikan tiga indikator praktis: (1) harga ritel harian Antam dan Pegadaian, (2) kurs rupiah terhadap dolar AS—karena emas global diperdagangkan dalam dolar—dan (3) perkembangan kebijakan suku bunga global.
Sebagai gambaran kasar, dengan spot sekitar US$4.837/oz dan kurs referensi BI terakhir Rp16.800 per US$, nilai spot setara sekitar Rp2,61 juta per gram (belum termasuk premium ritel, pajak, dan biaya distribusi).
Artinya, perbedaan antara “harga dunia” dan “harga ritel” wajar terjadi, dan pembeli sebaiknya membandingkan beberapa kanal sebelum bertransaksi.






