JAKARTA, Jumat, 10 April 2026, 07.40 WIB — Situasi Lebanon kembali memanas setelah serangan besar di Beirut dan wilayah lain menewaskan ratusan orang menurut laporan internasional. Indonesia mengecam serangan itu dan menempatkan keselamatan personel perdamaian UNIFIL sebagai perhatian utama.
Reuters melaporkan puluhan negara, termasuk Indonesia, mengutuk serangan terhadap pasukan perdamaian PBB di Lebanon. Pernyataan bersama di PBB yang disampaikan Duta Besar RI Umar Hadi menyebut serangan terhadap personel penjaga perdamaian dapat mengarah pada kejahatan perang dan pelakunya harus dimintai pertanggungjawaban.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri juga mengecam keras serangan Israel ke Beirut dan wilayah lain di Lebanon. Dalam pernyataan resmi, Indonesia menegaskan serangan terhadap warga sipil dan pasukan perdamaian memperburuk krisis kemanusiaan serta mengancam stabilitas kawasan.
Bagi publik Indonesia, isu ini tidak lagi jauh karena terkait langsung dengan keselamatan kontingen Garuda yang bertugas di UNIFIL. Keluarga prajurit, komunitas purnatugas, dan pemerintah kini sama-sama menanti langkah diplomasi dan perlindungan lebih kuat di lapangan.
Perkembangan lain menunjukkan Lebanon sedang mengupayakan gencatan senjata sementara untuk membuka ruang perundingan lebih luas dengan Israel. Namun, negosiasi itu berjalan di tengah serangan yang masih berlangsung dan situasi politik kawasan yang sangat rapuh.
Langkah berikutnya akan sangat bergantung pada jalur diplomatik dan tekanan internasional. Untuk saat ini, posisi Indonesia jelas: perlindungan warga sipil, penghormatan terhadap hukum humaniter, dan keamanan pasukan perdamaian harus menjadi batas minimum yang tidak boleh dilanggar.






