GEMASUMATRA.COM, SOLOK — Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah untuk mewaspadai ancaman sekunder berupa lahar hujan di kawasan Arosuka, Kabupaten Solok, Sumatera Barat.
Kawasan tersebut tidak hanya berada pada zona kerentanan gerakan tanah menengah, tetapi juga termasuk Kawasan Rawan Bencana I Gunung Talang. Kondisi geologi di bagian hilir Arosuka didominasi endapan vulkanik muda, batu apung, tuf, dan endapan lahar yang belum terkonsolidasi sempurna.
Material vulkanik mudah jenuh air
Badan Geologi menjelaskan material berporositas tinggi di wilayah tersebut dapat menjadi rapuh dan mudah jenuh ketika menerima hujan berintensitas tinggi. Material vulkanik lepas serta tanah pelapukan di hulu berpotensi menjadi sumber sedimen yang kemudian terbawa aliran air.
Ancaman tersebut diperkuat oleh bentuk lembah sungai yang terjal dan cenderung memusatkan aliran permukaan menuju kawasan hilir. Karena itu, hujan lebat perlu dipantau secara serius, terutama bagi warga yang bermukim atau beraktivitas di sekitar aliran sungai.
Banjir bandang September jadi perhatian
Evaluasi Badan Geologi terhadap banjir bandang di Arosuka pada 21 September 2026 menunjukkan peristiwa itu dipicu kombinasi hujan lebat dan penyumbatan material longsoran di bagian hulu lereng barat Gunung Talang.
Material tanah, batuan vulkanik, dan bongkah batu berukuran besar masuk ke alur sungai dan diduga membentuk bendungan alami. Ketika tampungan air meningkat, energi aliran menjadi besar karena perbedaan elevasi kawasan hulu dan hilir yang mencapai lebih dari seribu meter.
Aliran material kemudian dapat bergerak jauh mengikuti jaringan sungai. Badan Geologi mencatat sistem aliran di kawasan tersebut memungkinkan material terbawa hingga beberapa kilometer dari pusat longsoran.
Kesiapsiagaan warga perlu ditingkatkan
Warga di sepanjang aliran sungai diminta meningkatkan kewaspadaan ketika hujan deras berlangsung lama, terutama apabila air sungai berubah keruh, membawa material kayu atau batu, maupun mengalami kenaikan muka air secara cepat.
Sosialisasi kebencanaan, sistem peringatan dini, dan pengelolaan sedimen di wilayah hulu menjadi bagian penting untuk menekan risiko bencana susulan.
Sumber informasi: Badan Geologi Kementerian ESDM dan ANTARA, 6 Oktober 2026.






