Aceh, Gema Sumatra – Kapal yang membawa pengungsi Rohingya di perairan Aceh Selatan ternyata di miliki oleh seorang nelayan setempat.
Kapal tersebut, yang sebelumnya milik seorang nelayan asal Meukek, di jual sekitar 20 hari lalu kepada warga di Kecamatan Labuhan Haji Barat.
Panglima Laot Aceh Selatan, Muhammad Jabal, menjelaskan bahwa kapal itu masih berada di perairan sekitar 3-4 mil dari Pelabuhan Labuhan Haji.
“Kami belum bisa mendekati kapal Rohingya itu karena alasan keamanan. Kami khawatir mereka akan naik ke kapal kami. Untuk saat ini, kami mengutamakan bantuan kemanusiaan dengan memasok air dan makanan,” ungkapnya.
Kapal tersebut penuh dengan lebih dari seratus pengungsi Rohingya, yang mayoritas terdiri dari anak-anak.
Ketika para nelayan di sekitar Labuhan Haji curiga, mereka mendekati kapal dan menemukan para pengungsi yang sedang membutuhkan bantuan.
Bantuan kemanusiaan sudah di berikan dengan memasok makanan dan air ke kapal yang berada di tengah laut.
Meski begitu, belum ada keputusan terkait rencana membawa kapal tersebut ke daratan.
Menurut Jabal, langkah-langkah selanjutnya, termasuk kemungkinan mengevakuasi pengungsi dari kapal, masih menunggu keputusan dari pihak yang berwenang.
Situasi ini menimbulkan keprihatinan terkait kondisi para pengungsi, terutama anak-anak, yang terjebak di lautan tanpa tempat tujuan yang jelas.
“Pemilik awal kapal telah mengonfirmasi kepemilikan kapal sebelum di jual, tetapi belum jelas bagaimana kapal tersebut bisa di gunakan untuk membawa pengungsi.” ungkap Jabal.
Para pengungsi Rohingya yang berada di kapal tersebut merupakan bagian dari kelompok besar yang terusir dari tanah mereka akibat konflik dan penganiayaan di Myanmar.
Dalam beberapa tahun terakhir, banyak di antara mereka yang mencoba mencari perlindungan dengan menggunakan jalur laut yang berbahaya.
Pengungsi Rohingya sering terdampar di perairan Indonesia, termasuk Aceh.
Kondisi ini mendapat perhatian internasional karena keadaan kemanusiaan yang memprihatinkan selama mereka berada di laut.
Meskipun belum ada langkah pasti apakah mereka akan di izinkan mendarat, masyarakat sekitar telah menunjukkan solidaritas kemanusiaan dengan memberikan pasokan darurat.
Banyak di antara pengungsi tersebut terlihat dalam kondisi lemah setelah lama terombang-ambing di lautan.
Jumlah mereka yang cukup besar, termasuk perempuan dan anak-anak, menambah keprihatinan dan tantangan dalam penanganan kasus ini.
Pemerintah daerah di harapkan segera mengambil tindakan cepat untuk menjamin keselamatan para pengungsi.
Organisasi kemanusiaan juga perlu turun tangan untuk memastikan kesejahteraan mereka selama masih berada di perairan Aceh.
Kasus ini kembali menjadi pengingat akan nasib tragis pengungsi Rohingya, yang terus mencari tempat perlindungan di tengah keterbatasan pilihan yang mereka miliki.
Ikuti Update Berita Terkini Gema Sumatra di: Google News






