Banda Aceh, Gema Sumatra – Tradisi Idang Talam merupakan salah satu warisan budaya yang terus di pertahankan oleh masyarakat Aceh, khususnya dalam konteks pernikahan.
Tradisi ini melibatkan penyajian makanan dalam sebuah nampan besar yang di nikmati bersama oleh keluarga, tetangga, dan tamu.
Lebih dari sekadar acara makan, Idang Talam mencerminkan nilai sosial dan budaya yang mendalam dalam masyarakat Aceh.
Masyarakat percaya bahwa tradisi ini mempererat hubungan antarwarga dan menjaga keharmonisan dalam kehidupan sehari-hari.
Nama “Idang Talam” berasal dari kata “idang,” yang berarti sajian makanan, dan “talam,” yang berarti nampan besar.
Sejak zaman dahulu, Idang Talam sering di adakan dalam berbagai acara besar seperti pernikahan, kenduri, dan perayaan Maulid Nabi.
Tradisi ini berfungsi sebagai cara untuk mempererat hubungan sosial, di mana makan bersama dalam satu talam melambangkan kebersamaan, kesetaraan, dan saling berbagi.
Hal ini sangat penting dalam masyarakat Aceh yang menjunjung tinggi nilai-nilai kekeluargaan dan kebersamaan.
Dalam konteks pernikahan, Idang Talam menjadi syarat penting bagi pengantin pria untuk diserahkan kepada pengantin wanita selama resepsi.
Tradisi ini biasanya dilakukan dengan pengantin pria membawa Idang Talam yang berisi hidangan khas Aceh, dan diserahkan kepada pihak keluarga mempelai wanita.
Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat hubungan antara dua keluarga yang menikah, serta menegaskan rasa syukur atas pernikahan yang berlangsung.
Para tamu yang hadir juga di undang untuk menikmati hidangan yang di sajikan dalam Idang Talam, sehingga suasana pernikahan menjadi lebih meriah.
Pada tahun 2017, Idang Talam berhasil memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) di Banda Aceh.
Dalam acara Aceh International Halal Food Festival, sebanyak 1.074 pria bersama-sama membawa Idang Talam.
Kegiatan ini tidak hanya merayakan kuliner Aceh tetapi juga menegaskan pentingnya tradisi dalam menjaga identitas budaya.
Masyarakat setempat bangga berpartisipasi dalam acara tersebut.
Semua orang saling berbagi makanan dan menciptakan momen kebersamaan yang tak terlupakan.
Melalui Idang Talam, masyarakat Aceh tidak hanya merayakan kebersamaan tetapi juga melestarikan nilai-nilai luhur yang di wariskan oleh nenek moyang.
Dengan mempertahankan tradisi ini, masyarakat Aceh turut berkontribusi pada pelestarian budaya dan identitas mereka.
Tradisi ini mengajarkan pentingnya gotong royong, saling berbagi, dan memperkuat tali persaudaraan dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai bagian integral dari budaya Aceh, Idang Talam menjadi simbol kearifan lokal yang patut untuk terus di lestarikan oleh generasi mendatang.
Ikuti Update Berita Terkini Gema Sumatra di: Google News.