Yogyakarta, Gemasumatra.com – Gempa bumi bermagnitudo 4,9 mengguncang wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan sekitarnya pada Kamis pagi (11/7), pukul 06.24 WIB. Guncangan dirasakan oleh warga di beberapa wilayah seperti Bantul, Sleman, dan Kulon Progo.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat pusat gempa berada di koordinat 8.89 LS dan 110.48 BT, tepatnya 84 kilometer barat daya Bantul, dengan kedalaman 61 kilometer. Gempa tergolong dangkal dan terjadi akibat aktivitas subduksi lempeng Indo-Australia.
“Gempa ini tidak berpotensi tsunami dan hingga saat ini belum ada laporan kerusakan bangunan,” ujar Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, melalui pernyataan tertulis.
Sejumlah warga di Kota Yogyakarta menyatakan merasakan getaran ringan selama sekitar 3–5 detik. “Saya sedang sarapan, tiba-tiba gelas bergetar. Getarannya tidak lama, tapi cukup bikin kaget,” kata Wahyu, warga Jetis.
BMKG menegaskan bahwa gempa semacam ini cukup umum terjadi di zona selatan Jawa karena termasuk wilayah aktif secara seismik. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang, tidak terpengaruh isu-isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, dan mengikuti informasi resmi dari BMKG.
Sejak gempa terjadi, BMKG juga memantau tidak ada aktivitas gempa susulan yang signifikan. Kendati demikian, mereka tetap mengingatkan warga untuk selalu siap siaga menghadapi bencana dengan memastikan jalur evakuasi dan perlengkapan darurat di rumah.
Pemerintah daerah melalui BPBD DIY juga menyatakan telah memeriksa beberapa fasilitas publik dan memastikan tidak ada gangguan layanan. “Kami sudah koordinasi dengan BMKG dan memantau situasi di lapangan. Semua dalam kondisi aman,” ujar Kepala BPBD DIY, Biwara Yuswantana.
Gempa ini menjadi pengingat bahwa wilayah selatan Jawa termasuk DIY merupakan zona rawan bencana gempa, mengingat posisinya yang berdekatan dengan zona megathrust. Edukasi dan kesadaran kebencanaan perlu terus ditingkatkan.






