Fatih Architecture Studio Banner
Fatih Architecture Studio Banner

Gudang Bulog Baru Dinilai Penting Saat Panen Lampung Naik

Serapan jagung dan gabah di Lampung mulai menanjak pada puncak panen

Bulog 100 gudang baru Lampung (biroadpim.lampungprov.go.id)
Bulog 100 gudang baru Lampung (biroadpim.lampungprov.go.id)

KALIANDA, Jumat, 3 April 2026, 09.50 WIB — Rencana pembangunan 100 gudang baru Bulog secara nasional menjadi isu penting bagi pembaca Sumatra, terutama Lampung, ketika serapan gabah dan jagung mulai meningkat pada puncak panen April. Di Lampung Selatan, Bulog mencatat serapan gabah sudah mencapai 80.000 ton atau setara 41.000 ton beras.

Direktur Utama Perum Bulog menyatakan pembangunan 100 gudang baru ditujukan untuk memperkuat ketahanan pangan nasional melalui peningkatan kapasitas penyimpanan pascapanen. Program itu disebut memiliki nilai anggaran sekitar Rp5 triliun, terdiri dari sekitar Rp4,4 triliun untuk infrastruktur utama dan sekitar Rp0,56 triliun untuk mekanisasi, otomatisasi, serta sistem teknologi informasi. Pembangunan akan dilakukan di 92 kabupaten.

Sudut lokalnya terlihat jelas di Lampung. Bulog Lampung menargetkan penyerapan jagung lokal 120.000 ton pada 2026, dengan kontribusi utama diharapkan datang dari Kabupaten Lampung Timur dan Lampung Selatan. Hingga awal April, serapan jagung di Provinsi Lampung tercatat 2.700 ton, sekitar 1.000 ton di antaranya berasal dari Lampung Selatan. Bersamaan dengan itu, April disebut sebagai puncak panen raya sehingga kebutuhan ruang simpan menjadi semakin mendesak.

Baca Juga:  Puncak Arus Balik Diprediksi 2–3 Jan, Bakauheni Siaga

Ahmad Rizal Ramdhani, Direktur Utama Perum Bulog, mengatakan pembangunan gudang baru merupakan langkah strategis untuk memperkuat sistem logistik pangan. Di Lampung, Rindo Safutra, Pimpinan Wilayah Perum Bulog Kanwil Lampung, menyatakan, “Ke depan, Bulog menargetkan penyerapan jagung mencapai 120.000 ton.” Tri Umaryani dari Pemkab Lampung Selatan juga mengingatkan stabilitas harga petani harus dijaga agar produksi yang melimpah tidak justru merugikan produsen lokal.

Baca Juga:  Wali Kota Medan Ajak Kelurahan Manfaatkan Lahan Tidur Jadi Produktif

Bagi warga Sumatra, khususnya petani dan pelaku usaha pangan, kebijakan ini relevan karena gudang bukan sekadar bangunan penyimpanan. Kapasitas simpan berpengaruh pada kecepatan serap panen, kestabilan harga di tingkat petani, dan kemampuan pemerintah menjaga stok saat distribusi terganggu. Di Lampung Selatan, persoalan kemasan bahkan disebut ikut mempengaruhi laju distribusi bantuan pangan, menunjukkan bahwa rantai pasok tidak berhenti di sawah atau gudang saja.

Baca Juga:  Sumbar Punya 3,34 Juta Hektare Lahan Pertanian, Gubernur: Modal Besar Ketahanan Pangan

Apa berikutnya? Yang perlu diawasi publik ialah lokasi gudang di wilayah sentra produksi, kecepatan studi kelayakan, dan apakah proyek ini benar-benar menolong penyerapan hasil panen Sumatra pada musim puncak. Bagi petani, fokus praktisnya adalah memastikan gabah dan jagung terserap pada harga yang wajar, sementara pemerintah daerah perlu terus mengawal operasi pasar dan distribusi bantuan pangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *