Nasional, Gema Sumatra – Kasus intimidasi terhadap seorang siswa SMA Gloria di Surabaya telah menarik perhatian publik setelah seorang pengusaha memaksa siswa tersebut untuk sujud dan menggonggong.
Kejadian ini terjadi karena adanya konflik pribadi antara pengusaha tersebut dan orang tua siswa.
Dalam kejadian tersebut, pengusaha yang belum di sebutkan namanya mengaku telah memberikan hukuman fisik dan psikologis kepada siswa sebagai bentuk tekanan.
Kejadian ini di ketahui melalui informasi yang di sampaikan oleh pihak sekolah dan keluarga korban.
Polda Jawa Timur kini menangani kasus ini dan memastikan bahwa proses hukum akan terus berjalan.
Kepala Bidang Humas Polda Jatim, Kombes Pol. Trunoyudo Wisnu Andiko, dalam keterangan persnya mengatakan bahwa pihaknya sudah melakukan penyelidikan dan akan terus melanjutkan proses hukum hingga tuntas.
“Kami mengutuk segala bentuk kekerasan, terutama yang dilakukan terhadap anak-anak. Kami akan memastikan keadilan bagi korban,” ujar Trunoyudo.
Masyarakat di Surabaya sangat terkejut dan mengecam tindakan yang di anggap tidak manusiawi ini.
Salah seorang warga, Siti Nurbaya, mengungkapkan keprihatinannya, “Saya sangat tidak bisa menerima kejadian ini. Anak-anak tidak seharusnya menjadi korban kekerasan dalam bentuk apapun, apalagi di lingkungan pendidikan.”
Dalam hal ini, banyak pihak yang menilai bahwa tindakan pengusaha tersebut merupakan bentuk bullying yang serius, yang bisa menimbulkan trauma psikologis pada korban.
Di sisi lain, pihak sekolah SMK Gloria juga menanggapi kasus ini dengan serius.
Kepala Sekolah, Dr. Anton Sudrajat, dalam wawancara menyampaikan bahwa mereka akan mendukung proses hukum yang sedang berjalan.
“Kami akan memberikan dukungan penuh kepada siswa yang menjadi korban dan memastikan bahwa kejadian seperti ini tidak terulang lagi di sekolah kami,” katanya.
Menurut psikolog anak, Dr. Mira Lestari, tindakan seperti ini dapat berdampak buruk pada kesehatan mental korban, terutama jika tidak segera di tangani.
“Kekerasan psikologis seperti ini bisa menyebabkan trauma yang mendalam, yang mempengaruhi perkembangan emosional dan psikologis anak,” ujar Dr. Mira.
Kasus ini semakin memperlihatkan pentingnya perlindungan terhadap anak-anak dari segala bentuk kekerasan maupun psikologis.
Hal ini sangat relevan di lingkungan yang seharusnya menjadi tempat yang aman bagi mereka.
Pemerintah dan pihak terkait perlu bekerja sama untuk mencegah kejadian serupa terjadi di masa depan.
Ikuti Update Berita Terkini Gema Sumatra di: Google News






