Fatih Architecture Studio Banner
Fatih Architecture Studio Banner

Anak Harimau Sumatra Mati karena Malnutrisi di TMSBK Bukittinggi

BKSDA Sumbar Lakukan Evaluasi Manajemen Satwa Liar

Anak Harimau Sumatra (Pinterest/Flickr)
Anak Harimau Sumatra (Pinterest/Flickr)

BUKITTINGGI, 7 Juli 2025 — Seekor anak harimau Sumatra jantan yang baru berusia beberapa hari di Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan (TMSBK), Bukittinggi, Sumatera Barat, dilaporkan mati akibat malnutrisi dan dehidrasi. Harimau itu lahir pada 24 Juni 2025, namun ditemukan dalam kondisi lemas dan tidak aktif sebelum akhirnya dinyatakan mati pada awal Juli.

Hasil nekropsi yang dilakukan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat menunjukkan bahwa kematian disebabkan oleh kegagalan induk dalam memberikan air susu secara memadai. Petugas sempat memantau melalui CCTV dan mendapati bahwa induk tidak menyusui dengan optimal sejak hari ketiga pasca kelahiran.

“Penyebab utama kematian adalah kekurangan asupan gizi dan cairan. Bayi harimau itu tidak mendapatkan ASI dalam jumlah cukup sejak awal,” ungkap Kepala BKSDA Sumbar, Hartono, kepada media.

Baca Juga:  Padang: 25 Kg Sisik Trenggiling Disita, 3 Pelaku Ditangkap

Insiden ini langsung memicu evaluasi terhadap sistem pengelolaan satwa di TMSBK, termasuk frekuensi pemeriksaan kesehatan induk dan anak, serta penanganan dini ketika ada tanda-tanda penolakan induk terhadap anaknya. BKSDA menyatakan akan memperkuat prosedur intervensi medis dan pelatihan petugas dalam merawat satwa rentan.

Kematian anak harimau ini menjadi catatan penting dalam upaya konservasi harimau Sumatra, yang kini statusnya sangat terancam punah. Menurut data World Wildlife Fund (WWF), populasi harimau Sumatra di alam liar diperkirakan tersisa kurang dari 400 ekor.

Baca Juga:  Police Women Run 2025 di Bukittinggi Diramaikan Ribuan Peserta dan Dua Kapolda

“TMSBK harus menjadi garda depan edukasi dan pelestarian, bukan hanya tempat wisata,” ujar aktivis satwa liar, Dedi Rahmanto, menanggapi kasus tersebut.

Harimau Sumatra merupakan satu-satunya subspesies harimau yang tersisa di Indonesia. Kematian akibat kegagalan tumbuh di penangkaran menambah tantangan dalam upaya penyelamatan spesies endemik ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *