BENGKALIS, Rabu, 8 April 2026 09.30 WIB — Kemunculan harimau sumatra di area kerja Duri Field, Kabupaten Bengkalis, memicu langkah mitigasi BBKSDA Riau. Isu ini relevan bagi warga dan pekerja di sekitar kawasan karena menyangkut keselamatan manusia sekaligus perlindungan satwa liar yang dilindungi.
Laporan resmi diterima BBKSDA Riau dari pihak PT Pertamina Hulu Rokan pada Minggu, 5 April 2026, setelah muncul video perjumpaan dengan satwa tersebut di lokasi DSF 125 Tonggak 8. Berdasarkan identifikasi awal, satwa yang terekam dipastikan harimau sumatra dewasa. Tim kemudian turun ke lapangan bersama unsur keamanan perusahaan untuk memastikan situasi di lokasi.
Dalam mitigasi lapangan, petugas tidak hanya memeriksa titik awal penampakan, tetapi juga mendengar auman harimau dari sekitar kawasan. Tim lalu bergeser sekitar 500 meter untuk mengurangi risiko kontak langsung. Sebagai tindak lanjut, BBKSDA Riau memasang kamera jebak di sejumlah titik strategis, melakukan pemantauan udara dengan drone, dan mencatat koordinat lokasi untuk penanganan lanjutan.
Kepala Bidang Teknis BBKSDA Riau Ujang Holisudin menyatakan, “Tim BBKSDA Riau telah berkoordinasi dengan PT PHR dan benar bahwa salah satu karyawan sempat bertemu dengan harimau tersebut di Tonggak 8, Duri Field, serta mendokumentasikannya.” Ia juga memastikan langkah mitigasi terus dilakukan untuk menekan potensi konflik satwa dan manusia.
Bagi warga dan pekerja sekitar, kejadian ini berarti kewaspadaan harus ditingkatkan. Aktivitas di area yang berbatasan dengan vegetasi lebat atau jalur satwa perlu dibatasi, terutama pada pagi dan sore hari. Di sisi lain, penanganan juga harus menjaga agar satwa tidak diburu, diprovokasi, atau dijerat, karena tindakan semacam itu justru meningkatkan risiko konflik dan melanggar hukum konservasi.
Kasus kemunculan harimau di area aktivitas manusia bukan hal baru di Sumatra, tetapi setiap kejadian memiliki konteks bentang alam yang berbeda. Di Bengkalis, kawasan industri dan habitat satwa liar dapat bersinggungan ketika ruang jelajah satwa menyempit atau terganggu. Karena itu, mitigasi cepat dan disiplin pelaporan menjadi kunci untuk mencegah insiden yang lebih besar.
Langkah berikutnya adalah pemantauan visual melalui kamera jebak, evaluasi risiko konflik, dan koordinasi berkelanjutan antara BBKSDA Riau, perusahaan, serta aparat setempat. Warga dan pekerja diminta segera melapor bila melihat jejak, suara, atau penampakan satwa, dan tidak mendekati lokasi tanpa pendampingan petugas.






