Beberapa minggu lalu saya pulang kampung ke Sumatera Utara, menempuh jalur darat dari Medan ke sebuah desa kecil di Kabupaten Simalungun. Perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh dalam 4 jam, molor jadi hampir 8 jam. Alasannya? Jalan berlubang, bahkan ada yang sudah seperti sungai kecil saat hujan turun. Saya sempat berpikir, apakah ini memang sudah dianggap normal?
Namun, di tengah jalan yang becek dan berguncang itu, saya lihat sekelompok anak muda asyik merekam video TikTok di pinggir jalan rusak. Ironisnya, video mereka viral. Ada yang menulis caption: “Jalan kami ini cocok buat tes suspensi mobil tank.”
Saya tertawa, tapi juga miris. Di satu sisi, masyarakat kita kreatif luar biasa. Tapi di sisi lain, kenapa harus jalan rusak dulu baru viral? Apakah jalan mulus terlalu “tidak menarik” untuk dilihat?
Hal seperti ini bukan hanya terjadi di kampung saya. Dari Aceh sampai Papua, banyak daerah yang mengalami hal serupa. Infrastruktur yang seharusnya jadi hak dasar warga negara seringkali diabaikan, kecuali jika viral atau diliput media nasional. Seakan-akan, untuk didengar pemerintah, rakyat harus jadi content creator dulu.
Saya tidak menyalahkan siapa-siapa. Tapi saya ingin bertanya: kemana sebenarnya arah prioritas pembangunan kita? Jalan rusak dibiarkan, sementara gedung mewah atau tugu ratusan juta dibangun tanpa banyak dipikirkan dampaknya terhadap warga sekitar.
Pembangunan semestinya dimulai dari hal yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat: akses jalan, air bersih, layanan kesehatan, dan pendidikan. Bukan dari proyek pencitraan atau konten media sosial yang hanya menampilkan kemajuan semu.
Bukan berarti kita anti-kemajuan. Tapi kalau kemajuan hanya dirasakan oleh mereka yang tinggal di kota besar, sedangkan warga desa harus berjibaku dengan lumpur setiap hari, itu bukan kemajuan itu ketimpangan.
Indonesia punya potensi luar biasa. Tapi kalau kita terus membiarkan masalah mendasar seperti infrastruktur diabaikan, sementara kita sibuk mengejar tren digital semata, maka bukan tidak mungkin kita akan jadi negara yang hebat di layar HP, tapi rapuh di kehidupan nyata.
Penulis Merupakan Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Katolik Santo Thomas Medan






