Fatih Architecture Studio Banner
Fatih Architecture Studio Banner

Kolaborasi Warga Dan Mahasiswa KKN Universitas Andalas

Kegiatan seperti ini sangat kami apresiasi. Anak-anak di nagari ini memang butuh suasana belajar yang baru dan menyenangkan

Kegiatan Pengabdian di SD Negeri di Nagari Nan Limo (Sumber: Dokumentasi Lady Latifa)
Kegiatan Pengabdian di SD Negeri di Nagari Nan Limo (Sumber: Dokumentasi Lady Latifa)


GEMASUMATRA.COM – Nagari Nan Limo, sebuah kawasan yang penuh semangat belajar dan kekayaan budaya lokal, menjadi lokasi pelaksanaan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Andalas tahun 2025. Program ini secara khusus berfokus pada penerapan metode pembelajaran interaktif bagi siswa Sekolah Dasar. Melalui pendekatan yang menyenangkan dan partisipatif, mahasiswa KKN berupaya membangun pengalaman belajar yang berbeda dari biasanya.

Selama tiga hari pelaksanaan, yaitu tanggal 15, 16, dan 22 Juli 2025, kegiatan pengabdian dilakukan di tiga sekolah: SDN 15, SDN 07, dan SDN 08 Nagari Nan Limo. Pada minggu pertama, kegiatan diawali dengan observasi dan pengenalan lingkungan sekolah. Dari hasil diskusi dengan guru-guru, disepakati bahwa pembelajaran akan difokuskan pada siswa kelas 4, 5, dan 6 agar kegiatan lebih efektif dan merata.

Di SDN 15, kegiatan dilakukan melalui pembagian lembar latihan yang berisi pengenalan kosakata dasar bahasa Jepang. Walaupun materinya cukup sederhana, mengatur anak-anak bukan perkara mudah. “Anak-anaknya aktif sekali, jadi butuh pendekatan yang sabar dan terus membimbing,” ungkap salah satu anggota tim. Namun demikian, beberapa siswa terlihat sangat bersemangat. “Aku suka soal-soalnya, belajar bahasa Jepang ternyata seru juga,” ujar Ayu, siswa kelas 5.

Baca Juga:  Mahasiswa KKN UNAND 2025 Gelar Senam Massal untuk Meningkatkan Kesehatan Masyarakat

Berlanjut ke SDN 07, tim mencoba mengajarkan huruf hiragana menggunakan media papan tulis. Namun, tantangan lain muncul: anak-anak tampak acuh dan kurang fokus. “Kami sempat kewalahan, anak-anak di sini susah diajak fokus. Ada yang malah sibuk sendiri saat kami menjelaskan,” cerita anggota tim lainnya. Meski begitu, masih ada siswa yang tetap mengikuti dengan rasa ingin tahu. Seorang anak bernama Sonya mengatakan, “Huruf Jepangnya unik, tapi bingung bacanya.”

Berbeda dari dua sekolah sebelumnya, SDN 08 justru menjadi tempat yang menyenangkan bagi tim. Di sekolah ini, metode permainan interaktif diterapkan sebagai media pembelajaran. Anak-anak diajak bermain sambil belajar melalui kuis cepat, tebak kata, dan permainan fokus sederhana sebagai ice breaking.

“Anak-anak di sini sangat kooperatif dan antusias. Saat diajak bermain, mereka langsung semangat. Bahkan kalau ada yang tidak fokus, kami hukum dengan membaca materi di slide PPT,” ujar Hilam sebagai ketua pelaksana sambil tertawa. Dika, salah satu siswa, menimpali dengan semangat, “Seru banget! Main tapi sambil belajar. Aku jadi tahu kata Jepang kayak arigatou.”

Baca Juga:  Pengujian kesukaan anak-anak di SD 21 VII Koto Sungai Sariak, Nagari Lareh Nan Panjang Selatan

Guru-guru di sekolah pun memberikan respon yang positif. “Kalau bisa sering-sering datang ke sini, anak-anak kami butuh metode belajar yang baru dan menyenangkan seperti ini,” ujar Ibu Melda, guru kelas 4 di SDN 08.

Apresiasi juga datang dari pihak perangkat nagari buk Nisa, salah satu perangkat Nagari Nan Limo yang sempat meninjau kegiatan, menyampaikan bahwa kegiatan pengabdian seperti ini sangat berdampak bagi anak-anak. “Kegiatan seperti ini sangat kami apresiasi. Anak-anak di nagari ini memang butuh suasana belajar yang baru dan menyenangkan. Ini menjadi bekal penting untuk masa depan mereka,” ungkapnya.

Wali Nagari Nan Limo, Bapak Tri Sakti, juga menyampaikan harapannya. “Saya berharap mahasiswa yang datang bukan hanya mengajar, tapi juga menjadi inspirasi. Program seperti ini semoga bisa dilanjutkan setiap tahun dengan lebih luas dan menyentuh semua lapisan,” ujarnya saat diwawancarai secara singkat oleh tim.

Baca Juga:  Keterlambatan Pengajuan Pencairan KIP Kuliah Unand: Antara Kelalaian dan Dampaknya

Bagi para mahasiswa, kegiatan ini bukan hanya soal mengajar, tetapi juga menjadi cermin pembelajaran diri. Mereka belajar langsung di lapangan bagaimana menghadapi anak-anak dengan karakter yang beragam. “Di SDN 07 kami cukup stres karena siswa-siswanya susah dikendalikan, tapi di SDN 08 suasananya sangat menyenangkan dan siswa-siswanya sopan,” ungkap Silwa, salah satu anggota tim.

Pengenalan Huruf Jepang di SDN 07 (Sumber: Dokumentasi Lady Latifa)
Pengenalan Huruf Jepang di SDN 07 (Sumber: Dokumentasi Lady Latifa)

Pengalaman ini memperlihatkan bahwa pendekatan dalam pendidikan tidak bisa satu pola untuk semua. Dibutuhkan kreativitas, fleksibilitas, dan empati untuk menciptakan suasana belajar yang kondusif. Interaksi langsung dengan siswa dan guru membuat tim menyadari bahwa anak-anak bukan hanya butuh pengetahuan, tetapi juga pengalaman belajar yang menyentuh.

Melalui pengabdian ini, mahasiswa belajar bahwa menjadi pendidik bukan hanya menyampaikan materi, tetapi juga membangun ikatan dan menciptakan ruang yang nyaman bagi anak-anak untuk tumbuh. Di tengah tantangan dan tawa, mereka menemukan makna sejati dari belajar bersama masyarakat.

Oleh Lady Latifa (Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *