PADANG, Sabtu, 14 Maret 2026, 09.30 WIB — Transportasi mudik di Sumatera Barat mulai memasuki fase siaga. KAI Divre II Sumbar menyiapkan 171.424 tempat duduk selama masa angkutan Lebaran 2026, sementara Bandara Internasional Minangkabau mengaktifkan posko terpadu 18 hari untuk mengantisipasi lonjakan penumpang.
Kesiapan itu penting bagi warga Sumbar karena arus mudik tidak hanya bertumpu pada jalan raya. Jalur kereta lokal di sekitar Padang dan koneksi bandara menjadi pilihan utama bagi penumpang yang ingin menghindari kepadatan jalan, terutama menjelang puncak keberangkatan. Dari sisi pemerintah dan operator, kesiapan sarana, petugas, dan koordinasi lintas instansi menjadi penentu kelancaran layanan.
KAI Divre II Sumbar menyebut selama periode angkutan Lebaran pihaknya mengoperasikan 616 perjalanan kereta api lokal atau rata-rata 28 perjalanan per hari. Layanan itu terdiri atas KA Pariaman Ekspres relasi Paulima–Naras, KA Minangkabau Ekspres relasi Pulau Aie–Bandara Internasional Minangkabau, dan KA Lembah Anai relasi Padang–Kayu Tanam. Total kapasitas 171.424 kursi atau rata-rata 7.792 kursi per hari disebut naik 9 persen dibanding tahun lalu yang sebanyak 156.640 kursi.
Kepala Divre II Sumbar, Muh Tri Setyawan, menegaskan apel gelar pasukan menjadi bentuk komitmen pelayanan mudik yang aman dan nyaman. Persiapan yang dilakukan mencakup ramp check standar pelayanan minimum, inspeksi keselamatan, pembentukan posko terpadu, hingga penguatan pengamanan di titik rawan. KAI juga menyiagakan 13 lokomotif, 26 kereta, dua kereta penolong, dan tiga trainset KRD untuk memastikan operasional tetap berjalan.
Di sisi udara, Bandara Internasional Minangkabau di Kabupaten Padang Pariaman membuka posko terpadu angkutan Lebaran selama 13–30 Maret 2026. Posko ini disiapkan sebagai pusat koordinasi lintas instansi untuk aspek keamanan, keselamatan, dan pelayanan. Pihak bandara memprediksi kenaikan pergerakan penumpang sekitar 12 persen, dengan puncak arus diperkirakan pada H-3 Lebaran.
Bagi warga Sumbar, kesiapan dua moda ini memberi pilihan perjalanan yang lebih fleksibel. Penumpang dari Padang, Pariaman, hingga kawasan penyangga bandara dapat menyesuaikan moda sesuai tujuan dan biaya. UMKM di sekitar stasiun dan bandara juga biasanya ikut menikmati kenaikan aktivitas ekonomi selama musim mudik.
Apa berikutnya, calon penumpang perlu memperhatikan jadwal, membeli tiket lebih awal, datang lebih cepat ke stasiun atau bandara, dan mematuhi arahan petugas. Operator juga masih diuji pada aspek ketepatan waktu, penanganan cuaca, dan pengendalian kepadatan. Bagi warga, indikator keberhasilannya sederhana: perjalanan lancar, aman, dan tanpa antrean yang tidak perlu.






