TAPANULI UTARA, 13 Juli 2025 – Pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) pengrajin Tenun Ulos di Kabupaten Tapanuli Utara mulai memetik hasil dari transformasi digital. Melalui pemanfaatan platform e-commerce dan pelatihan pemasaran daring, produk tenun khas Batak ini kini menembus pasar nasional, bahkan internasional.
Berdasarkan data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Taput, sekitar 70 persen perajin telah aktif menjual produk mereka melalui Tokopedia, Shopee, hingga platform luar negeri seperti Etsy. Langkah ini disebut berhasil mendorong kenaikan omzet hingga 30 persen selama kurun waktu satu tahun terakhir.
“Dulu kami hanya menjual dari rumah atau saat ada acara adat. Sekarang, setiap minggu ada pembeli dari Jakarta, Yogyakarta, bahkan luar negeri,” ujar Boru Sihombing, perajin ulos asal Kecamatan Siborong-Borong, saat ditemui gemasumatra.com, Jumat (12/7).
Pelatihan dan Dukungan Pemerintah
Transformasi ini tak lepas dari program percepatan digitalisasi UMKM yang digagas Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara sejak awal 2025. Bupati Jonius Taripar Parsaoran Hutabarat menggandeng dinas terkait dan komunitas kreatif untuk menggelar pelatihan pembuatan konten promosi, teknik foto produk, hingga strategi pengiriman berbasis digital.
“Kami ingin perajin lokal tidak hanya bertahan, tapi mampu bersaing secara global. Ulos adalah warisan budaya yang memiliki nilai ekonomi tinggi jika dikemas dengan cara yang tepat,” kata Bupati Jonius dalam keterangan pers.
Selain itu, pembentukan Koperasi Digital Ulos Taput memudahkan perajin untuk berkolaborasi dalam promosi dan distribusi. Koperasi ini juga menyediakan layanan pendampingan bagi perajin lansia yang belum terbiasa dengan teknologi.
Inovasi Produk dan Tantangan
Tak hanya soal pemasaran, inovasi juga dilakukan pada desain dan fungsi produk. Ulos yang semula hanya digunakan untuk keperluan adat kini dikreasikan menjadi tas, syal, hingga dekorasi interior yang menyasar segmen pasar anak muda urban.
Namun, digitalisasi UMKM tidak lepas dari tantangan. Keterbatasan jaringan internet di beberapa desa dan masih rendahnya literasi digital sebagian perajin menjadi kendala utama. Pemerintah daerah berkomitmen memperluas jangkauan internet dan menambah frekuensi pelatihan rutin.
Harapan Ekonomi Kreatif
Keberhasilan pengrajin Ulos Taput ini menjadi gambaran potensi besar sektor ekonomi kreatif Sumatera Utara. Selain menjaga kelestarian budaya, digitalisasi UMKM dinilai mampu memperkuat daya saing lokal di pasar global.
“Tenun ulos bukan hanya soal motif, tapi identitas. Ketika kami bisa memasarkan ke luar daerah dengan harga pantas, kami juga sedang membuktikan bahwa budaya punya nilai ekonomi,” pungkas Boru Sihombing.






