Tak ingin dipandang kecil oleh Trump, Xi Jinping juga menolak untuk bernegosiasi lebih lanjut terhadap Trump terkecuali negosiasi yang dilakukan mengedapankan asas kesetaraan, Pemerintah China juga melaporkan pada WTO bahwa apa yang telah dilakukan oleh Amerika merusak prinsip perdagangan Global.
Selain membalas tarif yang dikenakan Trump terhadap China, Xi Jinping pun tak kehabisan akal ia terus membuat bermacam strategi guna melawan tarif Trump dengan memperkuat kerja sama dengan Asia Tenggara guna melindungan kepentingan Negaranya, dan terus berupaya mengurangi ketegantunganya terhadap Amerika dengan cara melakukan investasi besar – besaran diwilayah Asia dengan cara mengeluarkan obligasi dalam mata uang Yuan guna membiayai Impor yang dilakukan Negara – Negara Asia, sehingga dapat menggantikan pengaruh Dolar agar terlindungi dari Proteksi Amerika.
Tak hanya China beberapa Negara juga melakukan perlawanan terhadap tarif impor yang dikenakan Trump salah satunya Uni Eropa yang juga melakukan balasan dengan mengenakan tarif terhadap Produk otomotif Amerika seperti sepeda motor, unggas dan juga buah –buahan , selain Uni Eropa, Italia, Jepang, Kanada dan Inggris juga merespon tarif yang dikenakan trump, namun dengan menekankan proses negosiasi dan perdagangan yang adil.
Selain mempengaruhi ketidakstabilan ekonomi global, tarif yang kenakan Trump ternyata menjadi polemik di Negaranya sendiri, pelaku bisnis dan para tokoh ekonomi mengomentari kebijkan Trump, mulai dari CEO JPMorgan, dan Jamie Dimon, mengatakan bahwa kebijakan tarif yang tidak konsisten akan dapat mempengaruhi hubungan antar Negara dan memperkeruh kondisi pasar, tak hanya itu kamar dagang Amerika Serikat juga turut memberikan komentarnya, mengatakan bahwa tarif yang dikenakan Trump akan dapat merugikan banyak pihak dan salah satu pihak yang paling besar terkena dampaknya adalah pekerja, dan konsumen Amerika sendiri.
Negara bagian seperti California yang dipimpin oleh Gavin Newson menyatakan bahwa Trump telah menyalah gunakan UU Kekuatan Ekonomi Darurat Internasional ( IEEPA) tanpa persetujuan kongres sehingga menghasilkan kerugian pada Negara bagian, selain itu besarnya tarif yang dikenakan pada China telah menggangu pasokan bahan baku dan beban terhadap Konsumen, kenaikan tarif ini pun kemudian dibuktikan dengan kesulitan dibeberapa sektor mulai dari restoran yang kesulitan membeli bahan baku hingga pertanian yang mengalami penurunan ekspor.
Selanjutnya komentar pun terus berdatangan dari tokoh publik salah satu nya adalah Elon Musk yang mengkritik dengan nada yang tinggi dan merendahkan kebijak tarif yang diterapkan oleh Trump. Kebijakan tarif yang dilakukan Trump telah membuat beberapa sektor perekonomian Amerika serikat ikut terdampak, dampak yang pertama sudah barang tentu dirasakan oleh Konsumen yang berpendapatan rendah. Penetapatan tarif impor sudah barang tentu membuat barang – barang konsumsi menjadi mahal, dan tentu ini akan membebani konsumen berpendapatan rendah dengan peningkatan biaya hidup.
Dampak kedua terjadi pada sektor manufaktur, penetapan tarif pada bahan baku baja dan alumunium mengakibatkan produsen dalam Negeri menurunkan pekerjaanya pada sektor manufactur, penurunan ini kemudian berdampak terhadap nasib para pekerja yang harus angkat kaki sehingga menyebabkan pengangguran, terbukti pada tahun 2019 kehilangan lebih dari 75.000 pekerjaan.
Ketiga sektor pertanian, salah satunya adalah kedelai yang mana mengalami kerugian sebesar $24 Miliar yang terjadi akibat menurunya permintaan China, penurunan ini terjadi karena pemberlakuan tarif yang dibebankan pada pemerintah China, sehingga merugikan petani kecil Amerika sendiri. Selain kedelai, sorgum, produk susu, produk daging, buah dan kacang – kacangan, Etanol dan Jagung, serta gandum dan kapas, juga ikut mengalami kerugian yang signifikan.






