GEMASUMATRA.COM – Dua dekade lebih setelah wabah virus Rage meluluhlantakkan Inggris dalam film “28 Days Later” dan “28 Weeks Later”, sutradara Danny Boyle dan penulis skenario Alex Garland kembali menyajikan kelanjutan kisah tersebut dalam film “28 Years Later”, yang tayang perdana pada Juni 2025.
Sekuel ini menghadirkan pendekatan yang lebih reflektif dan sinematik terhadap dunia pasca-apokaliptik.
Alur cerita berpusat pada Spike, seorang anak berusia 12 tahun yang dibesarkan di lingkungan terpencil yang selamat dari kehancuran virus.
Melalui matanya, penonton dibawa menjelajahi dunia yang penuh dengan reruntuhan peradaban, kenangan masa lalu, dan kebangkitan nasionalisme.
Film ini tak hanya menampilkan aksi dan ketegangan khas film horor, tetapi juga mengangkat kritik sosial dan politik yang mendalam.
Di dalamnya, terdapat simbol-simbol kuat seperti “Bone Temple”, sebuah situs suci penuh kerangka yang dihuni para akademisi yang bertahan hidup dari virus.
Simbolisme ini mencerminkan kritik terhadap kemunduran rasionalitas di dunia yang porak-poranda oleh krisis.
“28 Years Later” menjadi jembatan emosional antara generasi terdahulu dan masa kini.
Para penggemar trilogi ini akan menemukan banyak elemen yang familiar namun diperbarui dengan pendekatan sinematografi dan tema yang lebih kontemporer.
Film ini juga dinilai berhasil menggabungkan nuansa nostalgia dengan penyajian sinematik modern yang menggugah.
Film ini sudah tersedia untuk disewa dan dibeli melalui platform digital seperti Prime Video, serta akan dirilis dalam format 4K Blu‑ray oleh Sony Pictures pada akhir 2025.
Kehadiran film ini menandai kembalinya genre horor-filosofis yang menggugah sekaligus menghibur, dengan kritik yang tajam terhadap realitas sosial dunia pasca-pandemi.






