TIMUR TENGAH, Senin, 23 Maret 2026, 06.55 WIB — Update Iran-Israel hari ini menunjukkan eskalasi baru yang makin berbahaya bagi kawasan dan ekonomi dunia. Konflik yang kini memasuki pekan keempat dibayangi ancaman Iran untuk menutup penuh Selat Hormuz bila infrastruktur kelistrikannya diserang, sementara serangan dan saling ancam antara pihak-pihak terkait terus berlanjut.
Menurut laporan Reuters dan AP, Washington memberi ultimatum 48 jam agar jalur Hormuz kembali dibuka sepenuhnya. Di sisi lain, Iran menyatakan selat strategis itu akan ditutup total jika pembangkit listriknya diserang. AP juga melaporkan wilayah Israel selatan dekat fasilitas riset nuklir di Dimona terkena serangan rudal, sementara korban tewas dalam perang yang dimulai pada 28 Februari disebut telah melampaui 2.000 jiwa.
Pernyataan paling keras datang dari pihak Iran yang dikutip Reuters. “The Strait of Hormuz will be completely closed and will not be opened until our destroyed power plants are rebuilt,” demikian pernyataan Garda Revolusi yang dimuat Reuters. Di pihak Israel, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, menurut AP, menyebut tidak adanya korban tewas dalam serangan terbaru di sekitar Dimona sebagai “miracle”, sambil menegaskan operasi militer akan terus berjalan.
Bagi Indonesia, relevansi konflik ini terutama ada pada energi dan logistik. Selat Hormuz dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Artinya, gangguan berkepanjangan dapat menekan harga energi, biaya pelayaran, dan ongkos distribusi global, yang pada akhirnya bisa ikut dirasakan melalui harga bahan bakar, tarif logistik, atau tekanan impor energi. Ini adalah dampak tidak langsung, tetapi masuk akal dibaca dari posisi Hormuz dalam rantai pasok global.
Di tengah situasi itu, badan atom PBB menyatakan belum menerima indikasi adanya kerusakan pada fasilitas riset nuklir di Dimona atau kenaikan radiasi pascainsiden. Sementara itu, PBB sejak awal konflik telah menyerukan deeskalasi dan gencatan senjata segera. Karena situasi lapangan berubah cepat, redaksi menandai artikel ini [Menunggu verifikasi] untuk angka korban, perkembangan militer, dan setiap klaim keberhasilan operasi yang terus bergerak dari jam ke jam.
Agenda berikutnya yang perlu dipantau adalah apakah ada jalur diplomasi yang benar-benar berjalan dalam 24–48 jam ke depan, terutama terkait keamanan pelayaran di Hormuz dan upaya menahan serangan balasan yang lebih luas. Untuk pembaca Indonesia, indikator paling mudah dibaca dalam waktu dekat adalah perkembangan harga energi dan arus pengiriman global.






