MEDAN, Kamis, 16 Oktober 2025, WIB — Nama Timur (Temur) Kapadze melejit setelah meloloskan Uzbekistan ke Piala Dunia 2026 untuk pertama kalinya pada 6 Juni 2025. Tiga bulan berselang, pada 6 Oktober 2025, federasi menunjuk Fabio Cannavaro sebagai pelatih kepala, sementara Kapadze bergabung sebagai asisten. Perubahan ini menegaskan target persiapan Uzbekistan menuju Amerika Utara.
Kapadze ditunjuk sebagai pelatih timnas Uzbekistan pada 23 Januari 2025 menggantikan Srečko Katanec yang mundur karena alasan kesehatan. Mantan gelandang timnas itu datang dengan modal penting: mengantarkan Uzbekistan U-23 ke Olimpiade Paris 2024. Di kualifikasi Piala Dunia zona Asia, ia memaksimalkan generasi muda yang naik kelas, memadukan organisasi permainan rapi dengan transisi cepat. Hasil paling bersejarah hadir lewat skor 0–0 melawan Uni Emirat Arab di Abu Dhabi (6 Juni 2025) yang memastikan posisi dua besar Grup A dan tiket otomatis ke Piala Dunia 2026.
Secara teknis, Kapadze identik dengan struktur 4-3-3/4-2-3-1 yang fleksibel, pressing terukur, dan penekanan pada keputusan cepat di sepertiga tengah. Ia kerap menonjolkan peran gelandang jangkar sebagai pemicu counter-press. Di era kepelatihannya, beberapa talenta muda menonjol, memperlihatkan hasil investasi pembinaan Uzbekistan pada kelompok umur. Pada periode inilah momentum psikologis—percaya diri menghadapi tim Asia papan atas—terbangun sebelum tongkat estafet dialihkan kepada Cannavaro untuk fase prapanggung Piala Dunia.
Ucapan Kapadze usai memastikan tiket ke Piala Dunia menangkap suasana hati publik di negaranya. “Kami mencapai hasil penting setelah perjalanan panjang dan sulit,” ujar Timur Kapadze, Pelatih Uzbekistan (saat itu). Ia menekankan kerja keras tim serta dukungan masyarakat sebagai faktor utama. Ucapan tersebut relevan bagi ekosistem sepak bola di Indonesia, terutama bagaimana komunikasi pelatih menguatkan mental skuad muda ketika memasuki laga-laga bertekanan tinggi.
Dampaknya bagi komunitas sepak bola Sumatra terletak pada pembelajaran desain pembinaan: (1) kesinambungan dari U-23 ke senior—akademi/SSB di Medan, Pekanbaru, dan Palembang dapat meniru “kurikulum taktik” lintas usia agar pemain tidak kaget saat promosi; (2) penajaman peran analis pertandingan untuk memetakan pola lawan dan pengambilan keputusan pemain; (3) penguatan set-pieces dan transisi—dua elemen yang menjadi pengungkit ketika menghadapi tim dengan kualitas individu lebih tinggi. Bagi UMKM pendukung sepak bola (kafe nobar, penjual jersey, komunitas watch party), momen jelang Piala Dunia 2026 dapat diolah menjadi program tematik, dari kelas taktik untuk suporter sampai kurasi konten edukatif untuk pemain muda.
Sebagai latar belakang, Uzbekistan berkali-kali nyaris lolos Piala Dunia—termasuk mentok di fase akhir kualifikasi 2006 dan 2014—sebelum pecah telur pada 2025. Investasi federasi pada pembinaan usia muda serta kontinuitas pelatih kelompok umur (Kapadze di U-23) menjadi titik balik. Penunjukan Cannavaro pada 6 Oktober 2025 dimaknai sebagai langkah menaikkan standar pengalaman internasional jelang turnamen akbar, sementara Kapadze—yang memahami karakter skuad—tetap berada di lingkar kepelatihan untuk menjamin transisi pengetahuan taktik berjalan mulus.
Ke depan, sinergi Cannavaro–Kapadze akan diuji pada kalender uji tanding dan pemusatan latihan jelang 2026. Untuk daerah, terutama Asprov dan klub di Sumatra, ada beberapa langkah praktis: menyusun session plan meniru fase-fase permainan (build-up, counter-press, bola mati), menyiapkan turnamen mini lintas U-17/U-19 agar pemain terbiasa menghadapi ritme padat, dan mengoptimalkan peran analis sukarela komunitas untuk merekam serta menilai indikator sederhana—jarak antarlini, keberhasilan pressing, hingga keberanian progresi umpan.






