PADANG, Minggu, 5 April 2026, 10.00 WIB — Pantai barat Sumatra kerap diguncang gempa karena wilayah ini berada di atas sumber gempa aktif, yakni zona subduksi di Samudera Hindia dan sesar aktif di daratan Sumatra. Bagi warga, pemahaman risiko ini penting karena berhubungan langsung dengan keselamatan rumah tangga, sekolah, dan jalur evakuasi.
Fakta dasarnya, BMKG menjelaskan bahwa di sebelah barat Sumatra terdapat zona megathrust, yakni area penunjaman Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia. Konvergensi dua lempeng itu membentuk salah satu kawasan sumber gempa yang sangat aktif di Sumatra. Pada saat yang sama, kajian BMKG juga menegaskan bahwa zona subduksi di sepanjang pantai barat dan sesar aktif di Pulau Sumatra sama-sama menjadi sumber gempa aktif.
Artinya, ancaman di Sumatra tidak datang dari satu sumber saja. Gempa bisa berasal dari laut di zona subduksi, tetapi juga bisa dipicu sesar aktif di daratan. Dalam studi hazard seismik BMKG, sejumlah kota besar di Sumatra yang memiliki hazard seismik tinggi antara lain Banda Aceh, Padang, Bengkulu, dan Bandar Lampung. Bagi pembaca di Sumatra, ini menjelaskan mengapa isu gempa bukan hanya relevan bagi kawasan pantai, melainkan juga kota-kota padat penduduk dan koridor ekonomi utama.
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati pernah menegaskan pentingnya kesiapsiagaan warga di wilayah rawan tsunami. “Kita berpacu dengan waktu, jadi bagaimana caranya warga ini bisa lari secepat-cepatnya di waktu emas yang tersisa sebelum gelombang tsunami naik ke daratan,” ujarnya. Dalam kesempatan lain, ia juga menekankan bahwa latihan evakuasi mandiri perlu dilakukan rutin agar masyarakat lebih cekatan menyelamatkan diri.
Bagi warga, dampak paling nyata bukan hanya getaran saat gempa, tetapi juga risiko benda jatuh, bangunan rapuh, kebakaran kecil, kepanikan, dan keterlambatan evakuasi. BMKG mengingatkan bahwa sebelum gempa, rumah perlu ditata agar benda berat berada di bagian bawah, perabot diikat atau ditempel ke dinding, serta keluarga mengetahui pintu keluar, tangga darurat, dan nomor penting. Saat gempa terjadi, warga diminta melindungi kepala dan badan, menjauhi bangunan atau tiang bila berada di luar, dan menjauhi pantai bila berada di kawasan pesisir.
Risiko tsunami juga membuat kecepatan informasi menjadi sangat penting. BMKG menerangkan, ketika terjadi gempa magnitudo 5,0 atau lebih, informasi gempa didiseminasikan dalam waktu sekitar 3–5 menit. Jika gempa berpotensi tsunami, BMKG mengeluarkan Peringatan Dini Tsunami pertama sekitar 5 menit setelah kejadian, disusul pemutakhiran berikutnya berdasarkan pemodelan dan observasi muka air laut. Karena itu, warga di pesisir tidak boleh hanya menunggu kabar berantai, melainkan harus mengandalkan informasi resmi dan respons cepat di lapangan.
Di Sumatra Barat, pendekatan kesiapsiagaan juga sudah berkembang ke tingkat komunitas. BMKG dan UNESCO-IOC telah mengukuhkan dua kelurahan di Kota Padang sebagai Tsunami Ready Community, yakni Purus dan Lolong Belanti. Pengakuan ini menunjukkan bahwa mitigasi yang baik tidak berhenti pada alat atau peringatan dini, tetapi juga mencakup jalur evakuasi, latihan warga, koordinasi RT/RW, sekolah, hingga aparat kelurahan.
Apa berikutnya bagi warga Sumatra adalah memastikan kesiapsiagaan menjadi kebiasaan, bukan reaksi sesaat setelah gempa besar. Langkah praktisnya sederhana tetapi menentukan: kenali jalur evakuasi terdekat, siapkan tas siaga, sepakati titik kumpul keluarga, hindari menggunakan lift setelah gempa, dan jangan mudah percaya pada informasi yang belum jelas sumbernya. Untuk wilayah pesisir, prinsip dasarnya tetap sama: bila gempa kuat terasa dan berlangsung cukup lama, segera menjauh dari pantai dan menuju tempat yang lebih tinggi sambil mengikuti arahan resmi petugas.
