BINJAI, Sabtu, 14 Maret 2026, 09.30 WIB — Warga Kota Binjai mulai memanfaatkan layanan internet gratis di Taman Merdeka sebagai bagian dari peluncuran 49 access point di delapan kota Sumatera Utara. Program ini ditujukan untuk memperluas akses digital warga, terutama di ruang publik yang ramai dipakai pelajar, pekerja, dan keluarga.
Program internet gratis itu merupakan bagian dari agenda digitalisasi pelayanan publik Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Dalam peluncuran serentak pada 1 Maret 2026, Binjai masuk daftar delapan kota penerima layanan bersama Medan, Padangsidimpuan, Tanjungbalai, Pematangsiantar, Tebing Tinggi, Sibolga, dan Gunungsitoli. Untuk warga Binjai, keberadaan titik wifi di Taman Merdeka dinilai langsung menyentuh kebutuhan harian karena lokasi tersebut menjadi salah satu pusat aktivitas masyarakat.
Secara umum, Pemprov Sumut menyiapkan 49 access point untuk delapan kota. Di Binjai, manfaat yang paling cepat terasa adalah kemudahan akses internet bagi pelajar yang belajar di luar rumah, pedagang kecil yang mengandalkan ponsel untuk promosi, hingga warga yang mengurus layanan daring tanpa harus membeli paket data tambahan. Di tengah kebutuhan internet yang terus naik, fasilitas publik seperti ini juga berpotensi menekan biaya harian rumah tangga.
Kepala daerah Sumut sebelumnya menyebut program ini masuk dalam kelompok Program Hasil Terbaik Cepat bidang digitalisasi pelayanan publik. Dalam pelaksanaannya, pemerintah daerah mendorong ruang terbuka seperti taman kota menjadi titik pemanfaatan yang aman dan mudah dijangkau. Bagi Binjai, model ini penting karena akses internet publik bisa sekaligus menghidupkan fungsi taman sebagai ruang belajar, berkumpul, dan beraktivitas ekonomi skala kecil.
Dampaknya bagi warga cukup nyata. Pelajar dapat mengakses materi sekolah dan kampus dari area publik, pelaku UMKM bisa mengunggah katalog dan berkomunikasi dengan pelanggan, sedangkan keluarga yang datang ke taman tetap terkoneksi tanpa tambahan biaya. Dalam konteks kota penyangga Medan seperti Binjai, kualitas akses internet juga menjadi bagian dari daya saing layanan perkotaan.
Dari sisi kebijakan, pemerintah provinsi menempatkan program ini sebagai salah satu layanan cepat yang hasilnya langsung bisa dirasakan. Tantangan berikutnya adalah menjaga kestabilan jaringan, memastikan keamanan penggunaan, dan memperluas literasi digital agar akses gratis tidak hanya dipakai untuk hiburan, tetapi juga produktivitas dan layanan publik.
Ke depan, warga menunggu evaluasi soal jam layanan, kapasitas pengguna, dan kemungkinan penambahan titik di kecamatan lain. Pemda juga perlu memastikan fasilitas ini terpelihara, tidak sekadar aktif saat peluncuran. Bagi warga Binjai, ukuran keberhasilannya sederhana: jaringan stabil, mudah diakses, dan benar-benar membantu aktivitas sehari-hari.






