MEDAN, Sabtu, 13 Desember 2025, 09.45 WIB — Waktu tempuh perjalanan darat Medan–Sibolga melonjak hingga sekitar 28 jam, jauh di atas kondisi normal 8–10 jam. Kerusakan berat di jalur Tarutung–Sibolga serta longsor di sejumlah titik membuat distribusi bantuan dan mobilitas warga pesisir barat Sumatra Utara masih sangat terganggu.
Pengemudi dan relawan yang berangkat dari Medan melaporkan harus beberapa kali berhenti karena jalan ambles, jalur menyempit, serta adanya sistem buka-tutup di titik-titik perbaikan. Jalur utama Tarutung–Tapanuli Tengah–Sibolga memang sudah dibuka sekitar 42 kilometer, namun 11 titik masih putus total sehingga hanya bisa dilalui kendaraan tertentu dengan pengawalan petugas.
Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, menegaskan pemulihan akses darat menjadi prioritas agar bantuan dan layanan dasar bisa menjangkau warga lebih cepat. “Masih ada 11 titik jalur Tarutung–Sibolga yang putus total. Selama ini akses logistik sangat terbatas dan harus kami kawal ketat,” ujar Bobby dalam keterangan di Posko Darurat Bencana Pemprov Sumut.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada pasokan logistik di Sibolga dan sejumlah kecamatan di Tapanuli Tengah. Distribusi bahan bakar sempat tersendat, membuat antrean panjang di SPBU dan sebagian warga memilih menghemat penggunaan kendaraan. Harga sejumlah kebutuhan pokok juga berpotensi terdorong naik karena biaya angkut yang membesar dan waktu tempuh yang jauh lebih lama.
Di lapangan, tim SAR gabungan masih bekerja di beberapa tebing rawan longsor di sekitar Sibolga. Jalan sempit, hujan yang kerap turun, dan potensi longsor susulan menjadi kendala utama. Pemerintah provinsi menyiapkan skema jangka pendek berupa penanganan darurat tebing, pemasangan rambu, serta pembatasan tonase di beberapa ruas, sembari menunggu desain rekonstruksi permanen dari Kementerian PUPR.
Bobby mengimbau warga dan relawan yang hendak menyalurkan bantuan ke Sibolga dan Tapanuli Tengah untuk berkoordinasi dengan posko resmi. “Kami minta masyarakat yang ingin mengirim bantuan tidak memaksakan diri lewat jalur rawan, apalagi saat hujan lebat. Lebih aman jika distribusi diatur lewat posko agar konvoi bisa dikawal dan risiko di jalan ditekan,” katanya. Ke depan, pemprov membuka kemungkinan mengoptimalkan jalur laut sebagai alternatif jika kondisi darat belum sepenuhnya pulih.






