Fatih Architecture Studio Banner
Fatih Architecture Studio Banner

Nias Selatan Longsor, Satu Warga Meninggal

BPBD minta warga di lereng rawan meningkatkan kewaspadaan saat hujan.

Longsor Nias Selatan (KOMDIGI)
Longsor Nias Selatan (KOMDIGI)

NIAS SELATAN, Sabtu, 11 April 2026, 21.30 WIB — Tanah longsor di Kabupaten Nias Selatan menewaskan satu warga pada Sabtu, 11 April 2026. Peristiwa ini kembali menegaskan tingginya risiko bencana hidrometeorologi di wilayah Sumatra Utara, terutama saat hujan masih berlanjut di kawasan rawan lereng.

Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana Sumatera Utara mencatat korban meninggal dunia dalam kejadian longsor di Nias Selatan. Di saat yang sama, peringatan cuaca dan hujan sedang hingga lebat di sejumlah wilayah Sumatra masih menjadi faktor yang memperbesar risiko longsor susulan, terutama pada kawasan dengan kontur tanah labil dan drainase terbatas.

Data kebencanaan di Sumut dalam beberapa hari terakhir juga menunjukkan tekanan hidrometeorologi belum sepenuhnya mereda. Sebelumnya, BPBD Sumut melaporkan longsor di Sembahe, Deli Serdang, menimbulkan korban jiwa dan kerusakan rumah. Rangkaian kejadian ini menjadi pengingat bahwa ancaman longsor tidak berdiri sendiri, melainkan terkait langsung dengan intensitas hujan, kondisi lereng, dan kerentanan permukiman di sekitar jalur bukit.

Baca Juga:  Akses Medan–Sibolga Dialihkan, Polisi Rilis Rute

Kepala Bidang Penanganan Darurat, Peralatan, dan Logistik BPBD Sumut Sri Wahyuni Pancasilawati, dalam laporan terdahulu terkait longsor di Sumut, menegaskan data yang dihimpun Pusdalops menjadi dasar penanganan lapangan dan asesmen lanjutan. Sementara laporan terbaru Pusdalops PB Sumut untuk Nias Selatan memastikan ada satu korban meninggal dunia dalam kejadian kali ini.

Baca Juga:  Kapal Feri KMP Tunu Pratama Jaya Tenggelam di Selat Bali, 4 Orang Tewas dan Puluhan Hilang

Bagi warga, dampak bencana seperti ini tidak hanya menyangkut keselamatan jiwa, tetapi juga akses jalan lingkungan, aktivitas sekolah, distribusi hasil kebun, serta layanan dasar ketika jalur penghubung tertutup material. Di banyak daerah kepulauan dan perbukitan, satu titik longsor saja bisa memperlambat mobilitas warga selama berjam-jam hingga berhari-hari jika alat berat dan personel belum menjangkau lokasi sepenuhnya. Ini yang membuat kewaspadaan dini jauh lebih penting daripada sekadar respons setelah kejadian.

Baca Juga:  Longsor di Aceh Tengah Tewaskan Satu Keluarga

Secara meteorologis, BMKG juga masih menempatkan sejumlah wilayah Sumatra dalam kategori potensi hujan sedang hingga lebat pada periode pertengahan April. Kondisi tanah yang sudah jenuh air menjadi faktor utama yang perlu diperhatikan masyarakat yang tinggal di lereng, bantaran tebing, atau sekitar badan jalan berbukit.

Langkah berikutnya, pemerintah daerah dan BPBD perlu memastikan asesmen cepat, pembersihan material, serta penyampaian peringatan ke desa-desa rawan. Warga diminta segera mengungsi sementara bila melihat retakan tanah, pohon miring, aliran air keruh dari lereng, atau bunyi gemuruh dari atas bukit saat hujan turun deras.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *