TAPANULI SELATAN, Rabu, 8 April 2026 09.30 WIB — Pemulihan pascabencana di Kabupaten Tapanuli Selatan bergerak ke fase yang lebih nyata setelah pembangunan hunian sementara dan penyerahan hunian tetap mulai berjalan. Bagi warga, percepatan hunian ini penting karena berkaitan langsung dengan rasa aman, kepastian tempat tinggal, dan pemulihan ekonomi keluarga.
Kabupaten Tapanuli Selatan menjadi salah satu wilayah dengan dampak berat dalam bencana banjir bandang dan longsor pada November 2025. Data terbaru yang dirangkum dari laporan pemerintah menyebut 14 dari 15 kecamatan terdampak, 2.038 rumah terkena imbas, dan kerugian ekonomi mencapai Rp 2,626 triliun. Karena itu, arah pemulihan kini tidak lagi sebatas penanganan darurat, melainkan memastikan warga segera keluar dari ketidakpastian.
Perkembangan pemulihan terlihat dari dua sisi. Pertama, progres huntara yang disebut sudah berada di kisaran 90-an persen. Kedua, penyerahan 120 unit huntap tahap pertama di Desa Hapesong Baru, Kecamatan Batang Toru, pada akhir Maret 2026. Selain itu, pemerintah juga menempatkan huntara di lima lokasi yang dinilai lebih aman berdasarkan kajian geologi.
Menteri Dalam Negeri sekaligus Ketua Satgas PRR Muhammad Tito Karnavian menyebut percepatan di Tapanuli Selatan sebagai salah satu yang paling cepat. Dalam pernyataannya, Tito mengatakan, “Nah, ini termasuk gotong royong tercepat. Saya sampaikan ini paling cepat.” Sementara itu, Ketua Harian Posko Tanggap Bencana Sumut Basarin menyebut progres pembangunan huntara sudah masuk “di angka 90-an persen”.
Dampak bagi warga sangat konkret. Ketika keluarga berpindah dari tenda ke huntara, kualitas hidup sedikit membaik: ruang tidur lebih layak, sanitasi lebih tertata, dan aktivitas harian lebih stabil. Namun, perpindahan ke hunian yang lebih aman belum otomatis memulihkan penghasilan. Banyak keluarga masih perlu dukungan untuk kembali bekerja, memperbaiki kebun, dan menata sekolah anak-anak.
Data pengungsi yang menurun menjadi indikator awal bahwa transisi berjalan. Pada Maret 2026, pengungsi di Tapanuli Selatan tercatat 990 jiwa, jauh di bawah jumlah pada fase darurat sebelumnya. Meski begitu, angka itu menunjukkan pemulihan belum tuntas. Tantangan berikutnya bukan hanya membangun rumah, tetapi memastikan lingkungan relokasi punya akses air, listrik, jalan, sekolah, dan fasilitas kesehatan.
Apa berikutnya bagi Tapanuli Selatan adalah percepatan serah terima hunian tetap, kelanjutan bantuan hidup dasar, dan pemulihan sumber penghidupan. Warga diimbau aktif memastikan data kependudukan, status bantuan, dan kebutuhan hunian mereka tercatat dalam pendataan resmi, agar penyaluran bantuan tahap lanjutan tidak tertunda.






