Fatih Architecture Studio Banner
Fatih Architecture Studio Banner
Bisnis  

Inflasi Sept: Sumut 5,32%; Riau 5,08%; Sumbar 4,22%

Cabai merah, daging ayam ras, dan emas jadi pendorong; TPID diminta jaga pasokan

Ilustrasi inflasi yang terjadi di Indonesia
Ilustrasi inflasi yang terjadi di Indonesia

[MEDAN, Sumatera Utara], Kamis, 2 Oktober 2025, WIB — BPS mencatat inflasi September 2025 di Sumatera Utara 5,32% (yoy), Riau 5,08%, dan Sumatera Barat 4,22%. Secara nasional inflasi 2,65% (yoy). Kenaikan dipicu cabai merah, daging ayam ras, dan emas perhiasan; TPID daerah diminta aktif meredam gejolak.

Di Sumut, laju 5,32% menempatkan provinsi ini tertinggi secara tahunan di Indonesia. Riau mencatat IHK 111,17 dengan inflasi 5,08% (yoy), sementara Sumbar 4,22% (yoy) dengan dorongan kuat dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Pada bulan yang sama, inflasi nasional 0,21% (mtm) dan 2,65% (yoy).

Rincian komoditas: di Riau, andil dominan datang dari cabai merah, emas perhiasan, ayam hidup/daging ayam ras, serta cabai hijau. Di Sumbar, cabai merah memberi andil terbesar (±0,93 poin perseribu) bersama komoditas pangan lain; sejumlah sayur menahan laju harga. Komoditas-kontributor di Sumut mengikuti pola nasional dengan dorongan pangan dan perawatan pribadi [Menunggu verifikasi rinci komoditas Sumut dari BPS Sumut].

Baca Juga:  Paket Relaksasi KUR Disiapkan untuk Korban Bencana Sumatra

“M. Habibullah, Deputi Bidang Statistik Produksi BPS — ‘Inflasi September 2025 tercatat 0,21% (mtm) dan 2,65% (yoy).’ ”

Dampak bagi warga/UMKM: harga cabai dan daging ayam berpotensi tetap tinggi antarpekan; perajin/peritel perhiasan merespons lonjakan harga emas. Pelaku usaha kuliner dianjurkan mengatur menu/ukuran porsi dan substitusi bahan, sementara rumah tangga bisa memanfaatkan pasar murah dan belanja kolektif.

Baca Juga:  Riau Sebar 242 Plang di Lahan Eks Karhutla

Sebagai latar, September menutup tren deflasi Agustus secara nasional. Sumut juga sempat mencatat inflasi tinggi Agustus. Di Riau–Sumbar, distribusi pangan dan momen tahun ajaran turut memengaruhi tarif pendidikan/biaya hidup. TPID daerah sebelumnya mengintensifkan Gerakan Pangan Murah (GPM) dan operasi beras SPHP untuk meredam harga.

Langkah lanjut: pemda/TPID memperkuat pasokan cabai/ayam (kerja sama antardaerah, cold chain), memperluas GPM dan SPHP, serta memantau emas perhiasan jelang musim hajatan. Warga disarankan memantau jadwal GPM Bulog/pemda dan mencatat harga satuan saat belanja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *