Fatih Architecture Studio Banner
Fatih Architecture Studio Banner

Bireuen Atur Satu Arah di Jembatan Darurat

Rekayasa lalu lintas diterapkan untuk menjaga jalur Banda Aceh–Medan tetap bergerak

Jembatan darurat Bireuen (Dinas Perhubungan Aceh)
Jembatan darurat Bireuen (Dinas Perhubungan Aceh)

BIREUEN, Selasa, 31 Maret 2026, 16.10 WIB — Direktorat Lalu Lintas Polda Aceh menerapkan sistem satu arah di jembatan darurat Kuta Blang, Kabupaten Bireuen, pada arus balik tahap ketiga Lebaran 1447 Hijriah. Langkah ini dilakukan untuk mencegah kemacetan pada salah satu titik paling rawan di jalur nasional Banda Aceh–Medan.

Bagi warga Bireuen dan pengguna jalan lintas timur Aceh, kebijakan ini sangat menentukan kelancaran mobilitas pascalibur panjang. Jembatan Kuta Blang bukan sekadar akses lokal, melainkan penghubung utama pergerakan orang, barang, dan distribusi logistik dari dan ke wilayah timur Aceh. Ketika jembatan permanen masih dalam tahap pemulihan, setiap perlambatan arus langsung berdampak ke perjalanan antarkabupaten.

Menurut kepolisian, titik ini sudah menjadi perhatian sejak arus mudik karena volume kendaraan tinggi. Jembatan permanen yang rusak akibat banjir belum pulih sepenuhnya, sehingga sementara waktu lalu lintas bertumpu pada jembatan bailey. Untuk mengurai kepadatan, polisi membalik pola rekayasa dibanding masa mudik: kendaraan dari arah Medan menuju Banda Aceh diluruskan melewati Kuta Blang, sedangkan arus dari Banda Aceh dialihkan ke jembatan darurat lain di kawasan Awe Geutah, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng.

Baca Juga:  Lampung Selatan Siaga Puncak Kedua Bakauheni

Kombes Pol Deden Supriyatna Imhar, Dirlantas Polda Aceh, menyebut Kuta Blang menjadi perhatian khusus sejak awal operasi mudik. Ia mengatakan personel tambahan dari BKO Polda Aceh tetap disiagakan di lokasi hingga arus balik benar-benar berakhir. Menurutnya, perubahan skema dilakukan karena volume kendaraan dari arah Medan pada fase balik kini lebih besar daripada dari arah Banda Aceh.

Baca Juga:  Arus Lebaran 147,55 Juta, Sumatra Jadi Kunci

Dampak paling nyata bagi warga adalah perjalanan yang lebih terukur, meski belum sepenuhnya normal. Sopir angkutan umum, pengemudi logistik, pedagang antarkota, hingga keluarga yang kembali dari Medan ke berbagai daerah di Aceh akan lebih mudah memperkirakan waktu tempuh ketika titik sempit seperti ini diatur dengan pola yang konsisten. Tanpa rekayasa, antrean dua arah berpotensi menumpuk di akses masuk jembatan.

Latar belakang persoalan ini adalah kerusakan infrastruktur akibat bencana banjir yang memutus atau melemahkan sejumlah akses di Aceh dalam beberapa bulan terakhir. BPJN dan pemerintah sebelumnya menyiapkan jembatan bailey agar lalu lintas jalan nasional tetap fungsional. Karena itu, pengaturan lalu lintas saat arus balik bukan langkah berdiri sendiri, melainkan bagian dari masa transisi sampai jembatan permanen pulih sepenuhnya.

Baca Juga:  Polda Aceh Tetapkan 4 Tersangka Baru Kasus Wastafel Covid-19

Langkah berikutnya yang ditunggu warga adalah kepastian percepatan pembangunan ulang jembatan permanen. Selama fase darurat masih berlaku, pengguna jalan diimbau mematuhi arahan petugas, mengurangi berhenti di badan jalan dekat jembatan, dan menyiapkan waktu tempuh lebih longgar bila melintas dari jalur Banda Aceh–Bireuen–Medan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *