Fatih Architecture Studio Banner
Fatih Architecture Studio Banner

100 KK Mengungsi Akibat Banjir di Agam

Subuh warga belum sepenuhnya tenang setelah luapan sungai kembali masuk ke permukiman

Banjir Agam 100 KK mengungsi (Jeffry Surianto)
Banjir Agam 100 KK mengungsi (Jeffry Surianto)

LUBUK BASUNG, Jumat, 3 April 2026, 09.10 WIB — Banjir yang melanda Jorong Labuah, Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, membuat 100 kepala keluarga mengungsi setelah Sungai Batang Kumayo meluap pada Rabu sore. Warga memilih bertahan di rumah kerabat yang lebih aman sambil menunggu pendataan lanjutan dari BPBD.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Agam mencatat warga mulai mengungsi sekitar pukul 17.30 WIB. Menurut BPBD, luapan terjadi setelah hujan cukup tinggi mengguyur kawasan itu sejak siang, sementara kondisi badan sungai disebut mengalami pendangkalan pascabanjir bandang pada akhir November 2025. Kawasan Tanjung Raya sendiri dikenal memiliki banyak aliran sungai, sehingga kerentanan limpasan air saat hujan lebat menjadi perhatian warga dan pemerintah nagari.

Data sementara menunjukkan 10 unit rumah terendam dengan ketinggian air mencapai sekitar 50 sentimeter. Selain rumah warga, dinding TK Labuah juga dilaporkan jebol. BPBD belum melaporkan korban jiwa dalam kejadian ini, tetapi proses pendataan dampak lanjutan masih berjalan bersama pemerintah kecamatan dan nagari.

Baca Juga:  Di Aceh Utara 5 Korban Banjir November 2025 Masih Hilang

Rahmat Lasmono, Kepala Pelaksana BPBD Agam, mengatakan, “100 kepala keluarga ini mengungsi di rumah warga dan keluarga yang aman dari banjir.” Ia juga mengimbau warga yang bermukim di sekitar aliran sungai agar segera berpindah ke lokasi lebih aman ketika curah hujan meningkat. Imbauan serupa ditujukan kepada pengguna jalan yang melintas di titik rawan longsor seperti Kelok 44, Sungai Landia, dan Panta.

Baca Juga:  Banjir Rendam 5 Kecamatan di Medan, Ratusan Mengungsi

Bagi warga setempat, peristiwa ini bukan sekadar genangan sesaat. Nagari Sungai Batang masih menyimpan trauma banjir bandang akhir 2025, sehingga respons mengungsi terjadi lebih cepat. Dampaknya bukan hanya pada rumah tangga, tetapi juga pada aktivitas sekolah, mobilitas keluarga, dan usaha kecil yang bergantung pada akses jalan kampung. Kewaspadaan dini menjadi faktor penting agar kerusakan tidak meluas.

Baca Juga:  Banjir dan Longsor Landa Padang Pariaman, Warga Diminta Waspada

Langkah berikutnya yang paling mendesak ialah pendataan rinci rumah terdampak, pengecekan kerusakan fasilitas umum, dan pemantauan intensitas hujan beberapa hari ke depan. Warga diminta terus mengikuti informasi resmi dari BPBD Agam dan aparatur nagari, mengevakuasi dokumen penting, serta menghindari bantaran sungai saat hujan deras turun pada siang hingga malam hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *