Fatih Architecture Studio Banner
Fatih Architecture Studio Banner

RSUD Nagan Raya buka layanan cuci darah

Warga tak perlu lagi rutin berobat ke Banda Aceh

Ilustrasi hemodialisis (Kirill Dratsevich)
Ilustrasi hemodialisis (Kirill Dratsevich)

NAGAN RAYA, Senin, 13 April 2026 22.10 WIB — RSUD Sultan Iskandar Muda Kabupaten Nagan Raya mulai mengoperasikan layanan hemodialisis atau cuci darah. Kehadiran layanan ini dinilai penting karena memangkas jarak, biaya, dan beban perjalanan pasien yang sebelumnya harus rutin berobat ke Banda Aceh untuk mendapatkan tindakan serupa.

Pemerintah kabupaten menyebut saat ini rumah sakit daerah tersebut telah mengoperasikan 10 unit mesin cuci darah. Bupati Nagan Raya Teuku Raja Keumangan mengatakan selama ini sekitar 30 warga harus menjalani perjalanan rutin ke Banda Aceh untuk mendapatkan layanan hemodialisis, bahkan sebagian pasien harus menetap sementara di luar daerah karena jadwal tindakan yang berulang.

Teuku Raja Keumangan menilai layanan baru ini menjadi angin segar bagi pasien dan keluarga. “Sekarang alat cuci darah sudah tersedia di RSUD Nagan Raya. Masyarakat tidak perlu lagi jauh-jauh berobat ke Banda Aceh,” ujarnya. Pemerintah daerah juga menyatakan komitmen untuk meningkatkan layanan secara bertahap agar kapasitas dan mutu pelayanan tetap terjaga.

Baca Juga:  KM Kelud Tinggalkan Aceh Setelah PON XXI Sukses

Dampak bagi warga cukup nyata. Pasien cuci darah umumnya membutuhkan tindakan rutin, sehingga biaya transportasi, pendamping keluarga, konsumsi, dan kehilangan waktu kerja selama ini menjadi beban besar. Dengan layanan lebih dekat, warga Nagan Raya berpeluang mendapat akses terapi yang lebih teratur tanpa tekanan biaya perjalanan antarkota yang selama ini memberatkan.

Baca Juga:  Istri Dibunuh Suami karena Sering Live TikTok dan Karaoke

Layanan ini juga menandai perubahan penting dari situasi sebelumnya. Pada Juni 2025, layanan cuci darah di RSUD Nagan Raya sempat diberitakan belum beroperasi enam bulan setelah diresmikan. Kini, operasional mesin dan pelayanan kepada pasien menunjukkan bahwa kebutuhan layanan dasar yang lama ditunggu warga mulai tersedia di daerah sendiri.

Ke depan, tantangan yang perlu diawasi ialah kesinambungan tenaga medis, jadwal layanan, ketersediaan bahan habis pakai, dan jaminan pembiayaan pasien agar layanan tidak berhenti di tahap awal. Bagi warga, yang terpenting bukan hanya alat tersedia, tetapi layanan benar-benar berjalan stabil dan dapat diakses secara rutin tanpa hambatan administratif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *