Fatih Architecture Studio Banner
Fatih Architecture Studio Banner

12 Sekolah Aceh Tengah Masih Belajar di Tenda

Pemulihan ruang kelas dan akses siswa menjadi kebutuhan mendesak

Sekolah darurat Aceh Tengah (UNIKI)
Sekolah darurat Aceh Tengah (UNIKI)

ACEH TENGAH, Jumat, 5 Juni 2026 17.30 WIB — Sebanyak 12 sekolah di Kabupaten Aceh Tengah masih melaksanakan belajar mengajar di tenda darurat pascabencana banjir dan tanah longsor akhir November 2025, sehingga pemulihan ruang kelas dan akses aman siswa menjadi prioritas warga.

Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah menyatakan kegiatan belajar di tenda masih berlangsung karena sebagian bangunan sekolah belum layak digunakan dan sejumlah akses menuju sekolah terdampak perubahan kondisi sungai pascabencana. Kondisi ini terutama berdampak pada siswa di wilayah yang sebelumnya terdampak banjir dan longsor.

Data Dinas Pendidikan Aceh Tengah yang dilaporkan ANTARA menyebut ada 12 sekolah masih belajar di tenda darurat. Laporan media lokal juga mencatat kerusakan bervariasi, dari bangunan tidak layak hingga akses yang terputus atau berisiko bagi siswa yang harus menyeberang.

Baca Juga:  Hardiknas 2026, Sekolah Sumatra Perkuat Kolaborasi

Salimsyah, Plt Kepala Dinas Pendidikan Aceh Tengah, “Saat ini ada sekitar 12 sekolah yang masih belajar di tenda darurat.” Pernyataan itu menegaskan bahwa kegiatan belajar belum sepenuhnya kembali normal meski masa tanggap darurat bencana telah berlalu.

Dampak langsung terasa pada siswa, guru, dan orang tua. Jam belajar berpotensi lebih pendek, kenyamanan ruang belajar terbatas, dan keselamatan perjalanan anak menjadi perhatian utama. Bagi keluarga di desa terdampak, sekolah darurat juga menambah beban logistik harian.

Baca Juga:  Aceh Tengah Banjir Lagi, Dua Jembatan Ambruk

Pascabencana Sumatra, sektor pendidikan menjadi salah satu layanan dasar yang memerlukan pemulihan berkelanjutan. Di Aceh Tengah, persoalan tidak hanya ruang kelas, tetapi juga akses jalan, jembatan kecil, dan keamanan lintasan menuju sekolah.

Pemerintah daerah perlu mempercepat pemetaan sekolah terdampak, menetapkan prioritas rehabilitasi ruang kelas, dan memastikan jalur aman bagi siswa. Warga diminta mengikuti arahan sekolah serta melaporkan titik akses berbahaya kepada aparat kampung atau dinas terkait.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *