Fatih Architecture Studio Banner
Fatih Architecture Studio Banner

Bandar Lampung Ambil Alih Normalisasi Sungai

Langkah diskresi diambil setelah banjir meluas ke 16 kecamatan

Sungai Indonesia (Tom Fisk)
Sungai Indonesia (Tom Fisk)

BANDAR LAMPUNG, Senin, 20 April 2026, 18.00 WIB — Pemerintah Kota Bandar Lampung memutuskan mengambil alih pengerjaan normalisasi sungai di Kecamatan Tanjung Senang setelah banjir pekan lalu meluas ke 16 kecamatan. Kebijakan ini menjadi sorotan karena warga membutuhkan penanganan cepat untuk mengurangi risiko banjir susulan saat hujan kembali turun.

Wali Kota Eva Dwiana menyatakan langkah itu diambil meski secara regulasi sungai berada dalam kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai. Menurut dia, diskresi diperlukan agar pekerjaan infrastruktur dan normalisasi pada titik-titik krusial tidak kembali tertunda, terutama di kawasan Tanjung Senang yang dinilai membutuhkan mitigasi lebih cepat.

Konteks daruratnya cukup jelas. BPBD Lampung mencatat 16 kecamatan di Kota Bandar Lampung terdampak banjir pada Selasa, 14 April 2026, setelah hujan berintensitas tinggi mengguyur kota sejak sekitar pukul 18.30 WIB. Dalam kejadian itu, BPBD juga mencatat satu warga meninggal dunia dan adanya tanah longsor, sementara ketinggian air di sejumlah titik dilaporkan mencapai lebih dari satu meter.

Baca Juga:  Banjir Melanda Aceh Selatan, Ratusan Keluarga Mengungsi

Bagi warga, normalisasi sungai bukan sekadar proyek teknis. Dampaknya terkait langsung dengan keselamatan permukiman, akses jalan lingkungan, aktivitas sekolah, hingga pergerakan usaha kecil yang cepat terganggu bila genangan kembali muncul. Karena itu, keputusan mempercepat pekerjaan di saluran dan drainase dipandang penting untuk membangun rasa aman di lingkungan rawan.

Pemerintah kota menilai cuaca saat ini sulit diprediksi, sehingga keterlambatan penanganan berpotensi memperbesar kerugian warga. Pernyataan itu selaras dengan fakta banjir sebelumnya yang menyebar luas antarkecamatan. Dengan kata lain, fokus kini tidak lagi hanya pada bantuan pascakejadian, tetapi juga pada pengurangan risiko agar kerusakan tidak berulang dalam waktu dekat.

Baca Juga:  BNPB Percepat 2.299 Huntara untuk Korban Banjir Aceh Tamiang

Apa yang ditunggu warga ialah jadwal kerja yang jelas, titik mana yang dikerjakan lebih dahulu, dan bagaimana koordinasi antara pemkot dengan instansi lain dijalankan di lapangan. Penanganan yang cepat akan lebih berarti bila diikuti perawatan drainase dan pengawasan kawasan rawan agar banjir berikutnya tidak kembali meluas seperti pertengahan April lalu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *