PANGKALPINANG – Perekonomian Kepulauan Bangka Belitung tumbuh 4,01 persen secara tahunan pada triwulan II 2026.
Badan Pusat Statistik Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mencatat pertumbuhan ekonomi secara kuartalan mencapai 5,02 persen. Angka itu membaik setelah ekonomi daerah mengalami kontraksi 3,88 persen pada triwulan sebelumnya.
Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum mencatat pertumbuhan tahunan tertinggi sebesar 33,29 persen. Pertumbuhan juga terjadi pada sektor administrasi pemerintahan sebesar 15,99 persen dan konstruksi sebesar 14,58 persen.
Peningkatan aktivitas rumah makan, warung kopi, Program Makan Bergizi Gratis, pembangunan tempat usaha, serta belanja pemerintah ikut mendorong pertumbuhan.
Konsumsi rumah tangga masih menjadi komponen utama perekonomian Bangka Belitung. Kontribusinya mencapai 50,59 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto.
Struktur ekonomi daerah masih ditopang industri pengolahan, pertanian, kehutanan dan perikanan, serta perdagangan. Ketiga sektor tersebut secara bersama-sama memberikan kontribusi 56,68 persen.
BPS juga mencatat tingkat kemiskinan pada Maret 2026 sebesar 4,75 persen. Angka tersebut turun 0,02 poin persentase dibandingkan September 2025.
Jumlah penduduk miskin berkurang dari sekitar 74,65 ribu menjadi 74,61 ribu orang. Meskipun demikian, garis kemiskinan Bangka Belitung mencapai Rp1.012.331 per kapita per bulan dan menjadi yang tertinggi kedua di Indonesia.
Data itu menunjukkan persentase kemiskinan menurun, tetapi biaya minimum untuk memenuhi kebutuhan dasar terus meningkat.
Ketimpangan pengeluaran Bangka Belitung tercatat sebesar 0,214. Angka tersebut menempatkan Bangka Belitung sebagai provinsi dengan tingkat ketimpangan terendah secara nasional.
BPS menyatakan Bangka Belitung masih perlu memperkuat sektor produktif, kualitas tenaga kerja, lapangan kerja formal, dan daya beli masyarakat.






