Fatih Architecture Studio Banner
ScienceTech Horizon Banner

MUI Bantu Rehabilitasi Masjid dan 200 Rumah Korban Bencana di Aceh

MUI menyiapkan rehabilitasi 200 rumah korban bencana di Aceh dan bantuan hingga Rp2 miliar untuk Masjid Salman Al-Farisi Aceh Tamiang.

Bantuan rumah korban banjir Aceh Tamiang
Bantuan rumah korban banjir Aceh Tamiang

ACEH TAMIANG – Pemulihan masyarakat terdampak bencana di Aceh Tamiang mendapat tambahan dukungan melalui program Majelis Ulama Indonesia. MUI menyalurkan bantuan untuk rehabilitasi Masjid Salman Al-Farisi di Kecamatan Manyak Payed sekaligus menyiapkan program perbaikan rumah masyarakat yang terdampak banjir. Aceh memperoleh porsi terbesar dalam program rehabilitasi rumah yang dijalankan MUI di beberapa provinsi.

Bantuan disalurkan melalui program yang melibatkan MUI, Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh dan sejumlah lembaga filantropi serta donatur. Untuk Masjid Salman Al-Farisi, MUI menyiapkan komitmen bantuan hingga Rp2 miliar. Pada tahap awal, sekitar Rp500 juta telah diserahkan untuk mendukung kelanjutan renovasi masjid tersebut.

Masjid Salman Al-Farisi merupakan masjid besar tingkat Kecamatan Manyak Payed. Bangunan tersebut berdiri di atas lahan sekitar 800 meter persegi dan telah menjalani proses renovasi selama beberapa tahun. Pengurus masjid menyebut sekitar Rp5 miliar telah digunakan dalam tiga tahun renovasi, dengan pendanaan yang berasal dari pemerintah daerah dan swadaya masyarakat. Selain bantuan rehabilitasi, masjid juga menerima sertifikat elektronik tanah wakaf dari Kementerian ATR/BPN.

Baca Juga:  Aceh Tamiang Terima 9 Skid Loader untuk Bersih-bersih Lumpur

Program bantuan tidak hanya menyasar fasilitas keagamaan. MUI menargetkan rehabilitasi 500 rumah korban bencana yang tersebar di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Dari jumlah tersebut, Aceh mendapatkan alokasi terbesar yakni 200 rumah, sedangkan Sumatera Utara dan Sumatera Barat masing-masing sekitar 150 unit. Nilai bantuan rehabilitasi ditetapkan sekitar Rp30 juta untuk setiap rumah.

Prioritas penerima antara lain masyarakat yang bekerja sebagai guru dayah, guru madrasah serta guru mengaji. Verifikasi calon penerima akan dikoordinasikan dengan lembaga ulama setempat. Pendekatan tersebut membuat pemulihan perumahan sekaligus diarahkan kepada kelompok masyarakat yang mempunyai peran penting dalam layanan pendidikan dan sosial-keagamaan di tingkat komunitas.

Baca Juga:  Harga Emas di Aceh Tamiang Naik Rp100 Ribu per Mayam

Pada skala yang lebih besar, pemulihan Aceh Tamiang masih membutuhkan pembangunan permukiman dan pemulihan lahan produktif. Pemerintah daerah dilaporkan telah menyiapkan sekitar 179 hektare lahan untuk pembangunan 4.159 unit hunian tetap. Selain itu, penanganan juga mencakup penerbitan kembali dokumen pertanahan yang rusak atau hilang dan konsolidasi tanah bagi puluhan ribu hektare kawasan pertanian dan perkebunan yang terdampak banjir dan sedimentasi.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemulihan bencana membutuhkan berbagai sumber dukungan. Pemerintah berperan pada pembangunan infrastruktur dan hunian dalam skala besar, sementara organisasi masyarakat dan lembaga filantropi dapat mengisi kebutuhan rehabilitasi yang lebih spesifik.

Baca Juga:  Pemulihan Aceh Tamiang Disebut Hampir 100 Persen

Untuk masyarakat, pemulihan rumah menjadi salah satu kebutuhan paling mendasar karena berkaitan langsung dengan kemampuan keluarga kembali menjalankan kehidupan normal. Sementara pemulihan masjid juga memiliki peran sosial yang penting di desa karena fasilitas tersebut digunakan tidak hanya untuk beribadah, tetapi sering menjadi pusat kegiatan masyarakat.

Sinergi antara pemerintah, lembaga keagamaan, filantropi dan masyarakat diharapkan mempercepat pemulihan Aceh Tamiang. Tantangan berikutnya adalah memastikan bantuan tepat sasaran, pembangunan berkualitas dan proses rehabilitasi mampu meningkatkan ketahanan bangunan serta kawasan terhadap potensi bencana di masa mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *