Fatih Architecture Studio Banner
ScienceTech Horizon Banner

Desa Pengabuan PALI Ubah Lahan Tak Produktif Jadi Lumbung Pangan, Target 167 Ton Gabah

Produktivitas padi ditargetkan 6,2 ton per hektare, naik dari 4 ton per hektare pada 2024.

Ilustrasi sawah dan petani untuk berita lumbung pangan Desa Pengabuan PALI

GemaSumatra.com – Desa Pengabuan di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir, Sumatera Selatan, mengembangkan lahan yang sebelumnya lama tidak produktif menjadi kawasan pertanian padi dan hortikultura.

Transformasi tersebut dilakukan melalui kerja kelompok tani, pendampingan teknis, dan program Pertanian Mandiri Desa Tangguh yang didukung PT Pertamina EP Adera Field.

Data kinerja program menunjukkan luas lahan produktif meningkat dari 18 hektare pada 2024 menjadi 22 hektare pada 2025. Luas lahan ditargetkan mencapai 27 hektare pada akhir 2026, atau meningkat sekitar 50 persen dibandingkan 2024.

Baca Juga:  BNPB Bubarkan Satgas Karhutla, Implikasi bagi Sumatra

Produktivitas padi juga meningkat dari rata-rata 4 ton per hektare pada 2024 menjadi 5,1 ton pada 2025. Pada 2026, produktivitas ditargetkan mencapai 6,2 ton per hektare.

Dengan perluasan lahan dan peningkatan produktivitas, produksi gabah kering ditargetkan mencapai 167 ton pada 2026. Sebagai perbandingan, produksi tercatat 72 ton pada 2024 dan 112 ton pada 2025.

Baca Juga:  Operasi Pasar Beras Digas, HET Baru Berlaku; Dampaknya bagi Sumatra

Dengan rasio konversi sekitar 70 persen yang digunakan dalam data program, target 167 ton gabah tersebut setara dengan sekitar 117 ton beras. Jumlah ini meningkat dari sekitar 50 ton setara beras pada 2024 dan 78 ton pada 2025.

Salah satu varietas yang dikembangkan adalah padi srai, varietas lokal yang telah dibudidayakan masyarakat sejak 1991. Beras varietas tersebut dilaporkan memiliki harga jual hingga sekitar Rp20.000 per kilogram.

Baca Juga:  Wapres Gibran Tinjau Sekolah Rakyat & Panen Jagung di Sumsel

Pendampingan juga diarahkan pada pengelolaan air lahan tadah hujan, teknologi budidaya, pengendalian hama, dan penguatan ekonomi kelompok tani untuk menjaga produktivitas lahan.

Sumber: ANTARA, 20–21 September 2026. Foto ilustrasi: Jagamohan Senapati/Unsplash.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *