Fatih Architecture Studio Banner
Fatih Architecture Studio Banner

Tapteng Kebut Pemulihan Akses di Hutanabolon

Sungai dinormalisasi, jembatan dan bantuan warga berjalan

Pemulihan Tapanuli Tengah pascabencana (el jusuf)
Pemulihan Tapanuli Tengah pascabencana (el jusuf)

TAPANULI TENGAH, Kamis, 26 Maret 2026, 09.35 WIB — Pemulihan pascabencana di Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, terus berjalan melalui normalisasi sungai, pembangunan akses jembatan, dan penyaluran bantuan bagi warga terdampak. Fokus utama pemerintah saat ini adalah memulihkan mobilitas, keamanan permukiman, dan aktivitas ekonomi warga di wilayah yang paling terdampak.

Kelurahan Hutanabolon disebut sebagai salah satu wilayah paling terdampak banjir bandang dan longsor pada akhir November 2025. Sungai yang melintasi kawasan itu sebelumnya dipenuhi lumpur, batu, dan kayu, sehingga air meluap ke permukiman. Pemerintah pusat, Pemprov Sumut, dan Pemkab Tapanuli Tengah kemudian melakukan normalisasi sungai dengan memanfaatkan sedimen sebagai tanggul penahan.

Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution, sebagaimana dikutip Diskominfo Sumut, menyebut tanggul di kawasan itu direncanakan dipermanenkan dengan dukungan Kementerian PUPR, TNI, Polri, dan Pemkab Tapanuli Tengah. Dalam sumber resmi Pemprov Sumut disebut panjang tanggul yang dikerjakan mencapai 10,5 kilometer. Sementara itu, Satgas TNI telah menuntaskan Jembatan Perintis Garuda sepanjang 50 meter dan lebar 1,2 meter untuk menghubungkan lingkungan warga di Kecamatan Tukka.

Baca Juga:  Banjir Rendam 15 Desa di Nagan Raya, Akses Jalan Terganggu

Tito Karnavian, Menteri Dalam Negeri sekaligus Ketua Satgas Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera, mengatakan, “Saya salut dengan ide ini, air lancar dan sedimennya dijadikan tanggul.” Di sisi lain, Kepala Penerangan Kodam I/Bukit Barisan Kolonel Inf Asrul Kurniawan Harahap menegaskan jembatan perintis itu menjadi akses vital agar mobilitas dan kegiatan harian warga bisa pulih.

Baca Juga:  Rejang Lebong Gelar Gotong Royong Massal Cegah Banjir

Dampaknya bagi warga cukup besar. Jembatan penghubung memudahkan akses dari permukiman ke lahan sawah dan kebun, sementara normalisasi sungai diharapkan menekan risiko luapan ulang ke rumah-rumah penduduk. Selain pemulihan fisik, PMI juga menyalurkan bantuan nontunai multiguna kepada 1.320 kepala keluarga di empat kecamatan dan 31 desa/kelurahan, masing-masing Rp 1 juta per KK, untuk membantu kebutuhan dasar dan pemulihan rumah tangga.

Baca Juga:  Banjir-Longsor Tapteng, BNPB: Warga Mengungsi Bertambah

Pemulihan Tapteng memang berlangsung bertahap sejak bencana besar akhir 2025. Sejumlah desa sempat terisolasi selama berbulan-bulan, sekolah dibersihkan kembali, dan akses penghubung darurat dibangun untuk membuka mobilitas warga. Fakta itu menunjukkan bahwa fase saat ini bukan lagi tanggap darurat murni, melainkan percepatan pemulihan layanan dasar dan infrastruktur lingkungan.

Agenda berikutnya adalah memastikan tanggul benar-benar dipermanenkan, akses lingkungan tetap terbuka, dan bantuan pemulihan menjangkau warga yang belum pulih penuh. Warga tetap diimbau waspada terhadap cuaca dan melaporkan kerusakan infrastruktur lingkungan ke aparat setempat agar penanganan tidak terlambat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *