MEDAN — Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara mencatat angka kasus stunting di provinsi tersebut mengalami penurunan pada triwulan kedua 2026.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Sumut Hery Valona Ambarita menyebutkan penurunan mencapai 2,43 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Informasi tersebut disampaikan pada Jumat, 10 Juli 2026.
Dinas Kesehatan Sumut mengaitkan penurunan tersebut dengan pelaksanaan Program Bantuan Stimulan Keluarga Berisiko Stunting. Program ini menyasar keluarga yang membutuhkan dukungan dalam pemenuhan kebutuhan kesehatan dan gizi.
Program pelayanan berobat gratis yang dijalankan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara juga disebut turut mendukung upaya penanganan stunting.
Pelaksanaan program membutuhkan koordinasi antara pemerintah provinsi, kabupaten dan kota, fasilitas kesehatan, tenaga kesehatan, pemerintah desa, serta kader pendamping keluarga.
Pemantauan secara berkala diperlukan untuk memastikan bantuan dan pelayanan kesehatan menjangkau keluarga berisiko. Pendataan juga diperlukan untuk mengetahui daerah yang masih memiliki jumlah kasus tinggi dan membutuhkan intervensi lebih besar.
Dalam laporan singkat yang dipublikasikan, Dinas Kesehatan Sumut belum merinci jumlah absolut anak yang mengalami stunting maupun distribusi penurunan di masing-masing kabupaten dan kota.
Data lanjutan diperlukan untuk melihat apakah penurunan terjadi secara merata serta menilai efektivitas setiap program yang telah dilaksanakan.






