Fatih Architecture Studio Banner
ScienceTech Horizon Banner

Aceh Timur Ajukan Rp500 Juta untuk Kembangkan Desa Kreatif Berbasis Tenun dan Tikar Pandan

Aceh Timur mengajukan Rp500 juta ke Kementerian Ekonomi Kreatif untuk mengembangkan desa kreatif berbasis tenun dan kerajinan tikar pandan.

Desa kreatif Aceh Timur
Desa kreatif Aceh Timur

ACEH TIMUR – Pemerintah Kabupaten Aceh Timur mengajukan pendanaan sebesar Rp500 juta kepada Kementerian Ekonomi Kreatif untuk mendorong pengembangan desa kreatif berbasis kerajinan tradisional.

Pendanaan tersebut diarahkan untuk memperkuat sektor kriya, terutama kerajinan anyaman tikar pandan dan kain tenun yang selama ini telah berkembang di sejumlah wilayah Aceh Timur.

Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky menyampaikan usulan tersebut saat bertemu Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya di Jakarta. Pemerintah daerah menilai produk kerajinan lokal memiliki peluang untuk dikembangkan lebih luas karena sebagian produknya telah dipasarkan ke berbagai daerah hingga pasar luar negeri.

Baca Juga:  Disperindag Aceh Gelar Workshop Digital Marketing bagi Pelaku Usaha

Meski demikian, pelaku usaha masih membutuhkan penguatan pada sejumlah aspek. Di antaranya peningkatan kualitas produk, pelatihan usaha, perlindungan kekayaan intelektual, administrasi usaha, hingga perluasan akses pasar.

Pemerintah daerah berharap pengembangan desa kreatif dapat meningkatkan nilai tambah produk lokal sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat pedesaan.

Kementerian Ekonomi Kreatif menyatakan program desa kreatif tidak hanya diarahkan pada kegiatan pelatihan jangka pendek. Pendampingan akan dilakukan agar pelaku usaha dapat berkembang secara berkelanjutan, termasuk melalui fasilitasi akses pembiayaan.

Baca Juga:  Mengungsi demi Bantuan, Ternyata Punya Lahan 18 Hektare

Pengembangan industri kreatif berbasis kerajinan lokal juga dinilai dapat membantu mempertahankan keterampilan tradisional yang telah berkembang turun-temurun di tengah perubahan pola ekonomi masyarakat.

Usulan Aceh Timur tersebut menempatkan tenun dan tikar pandan bukan hanya sebagai produk budaya, tetapi juga sebagai komoditas ekonomi yang berpotensi memperluas sumber pendapatan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *