Fatih Architecture Studio Banner
ScienceTech Horizon Banner

Kemarau Jambi Diprediksi hingga September, 537 Hotspot Terdeteksi dalam Sembilan Hari

BMKG memperkirakan puncak musim kemarau di Jambi berlangsung hingga September 2026. Sebanyak 537 titik panas terdeteksi sepanjang 1–9 Agustus.

Kemarau Jambi 2026
Kemarau Jambi 2026

JAMBI – Puncak musim kemarau di Provinsi Jambi diperkirakan berlangsung hingga September 2026. Kondisi tersebut membuat kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan atau karhutla perlu terus ditingkatkan.

Prakirawan BMKG Jambi M Randy Herdyansyah mengatakan kondisi cuaca dalam beberapa hari diperkirakan didominasi cerah hingga berawan. Meski demikian, hujan masih berpeluang terjadi pada sebagian wilayah.

BMKG memperkirakan wilayah Jambi bagian barat memiliki potensi hujan pada 13 dan 16 Agustus 2026. Dengan demikian, periode kemarau tidak berarti seluruh wilayah Jambi sama sekali tanpa hujan.

Baca Juga:  OKU Tetapkan Status Siaga Darurat Banjir dan Longsor

Pada periode 1 hingga 9 Agustus 2026, BMKG mencatat sebanyak 537 hotspot atau titik panas terdeteksi di Provinsi Jambi.

Muaro Jambi mencatat jumlah terbesar dengan 159 titik, diikuti Sarolangun 136 titik dan Tanjung Jabung Barat 74 titik. Merangin tercatat 69 titik, Batang Hari 32 titik, Tebo 29 titik, Bungo 20 titik, Tanjung Jabung Timur 14 titik dan Kerinci empat titik.

Hotspot perlu dibedakan dengan kebakaran yang telah terverifikasi di lapangan. Titik panas merupakan hasil deteksi yang dapat digunakan sebagai salah satu indikator untuk pemantauan lebih lanjut.

Baca Juga:  Aceh Utara Kembali Tanggap Darurat Banjir 10–24 Jan 2026

Menghadapi kondisi kemarau, pemerintah juga menyiapkan Operasi Modifikasi Cuaca atau OMC.

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jambi Bachyuni Deliansyah menyebut BNPB telah menyiagakan satu pesawat untuk melakukan penyemaian awan ketika kondisi atmosfer memungkinkan. OMC diarahkan untuk membantu meningkatkan kelembapan lahan yang semakin kering.

BPBD juga melaporkan luas lahan terbakar yang telah tercatat berada di atas 300 hektare. Namun, angka tersebut belum menggambarkan keseluruhan luas terdampak karena sejumlah lokasi, termasuk area di Muaro Jambi, masih menjalani proses pemadaman dan pendinginan sebelum penghitungan dapat dilakukan.

Baca Juga:  BMKG: Gelombang 1,25–2,5 m di Nias 4–6 Nov

Kondisi tersebut membuat masyarakat serta pelaku usaha di kawasan rawan karhutla perlu meningkatkan kehati-hatian, terutama terhadap aktivitas yang dapat memicu api pada lahan kering.

Pemantauan hotspot, patroli darat, pemadaman serta modifikasi cuaca menjadi bagian dari upaya penanganan selama periode kemarau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *