MUSI BANYUASIN – Menteri Koperasi Ferry Juliantono meresmikan pabrik pengolahan minyak sawit mentah atau crude palm oil milik KUD Sejahtera di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, Rabu (12/8/2026).
Pabrik tersebut memiliki kapasitas pengolahan hingga 45 ton tandan buah segar atau TBS per jam. Total investasi pembangunan fasilitas, infrastruktur dan lahan mencapai sekitar Rp100 miliar.
Menteri Koperasi menyebut pabrik tersebut diarahkan menjadi model hilirisasi sawit berbasis koperasi yang dapat direplikasi di daerah lain.
Langkah itu diharapkan membuat koperasi dan petani tidak hanya berada pada posisi sebagai penghasil atau pengumpul TBS, tetapi ikut memperoleh nilai tambah dari proses pengolahan komoditas sawit.
Ketua KUD Sejahtera Thamrin menjelaskan pembangunan fasilitas pabrik membutuhkan investasi sekitar Rp90 miliar. Setelah memperhitungkan infrastruktur serta lahan, investasi keseluruhan mencapai sekitar Rp100 miliar.
Pembiayaan pembangunan berasal dari kombinasi pinjaman perbankan, modal anggota, serta penyertaan modal masyarakat dan pelaku usaha di sekitar koperasi.
KUD Sejahtera memiliki 1.536 anggota dengan total kebun sawit anggota yang dikelola sekitar 3.074 hektare. Sekitar 76 persen kebutuhan bahan baku pabrik dipasok dari perkebunan milik anggota koperasi, sedangkan kekurangannya dipenuhi melalui TBS dari petani di sekitar pabrik yang bermitra dengan koperasi.
Keberadaan pabrik memungkinkan koperasi menyerap hasil produksi anggotanya sekaligus membuka peluang bagi anggota memperoleh manfaat ekonomi dari kegiatan pengolahan sawit.
Produksi CPO dari KUD Sejahtera saat ini belum ditujukan untuk ekspor langsung. Produk dipasarkan kepada mitra industri, termasuk Wilmar.
Menteri Koperasi juga menyebut pemerintah mendorong lebih banyak koperasi sawit memasuki tahap pengolahan. PT Agrinas Palma Nusantara dilaporkan telah menerima pendaftaran sekitar 20 koperasi yang berminat mendirikan pabrik CPO, sementara pengajuan pembangunan juga telah masuk melalui skema yang melibatkan LPDB.
Pengembangan fasilitas pengolahan di tingkat koperasi menjadi salah satu pendekatan hilirisasi yang berupaya mempertahankan lebih banyak nilai tambah komoditas di daerah produsen.
Bagi Sumatera Selatan yang memiliki basis perkebunan sawit, keberhasilan model tersebut akan sangat ditentukan oleh tata kelola koperasi, keberlanjutan pasokan bahan baku, efisiensi operasional serta kemampuan pemasaran produk.






