NATUNA, Rabu, 15 April 2026, 15.10 WIB — BPBD Natuna memperketat patroli dan sosialisasi pencegahan kebakaran hutan dan lahan meski kondisi lapangan disebut mulai mereda. Pemerintah daerah menilai kewaspadaan tetap penting karena vegetasi mengering dan risiko karhutla masih dipengaruhi cuaca serta aktivitas manusia.
Menurut BPBD Natuna, pada awal 2026 pemerintah daerah menetapkan status siaga darurat untuk banjir, longsor, cuaca ekstrem, gelombang pasang, dan abrasi. Pada 26 Maret 2026, status sempat dinaikkan menjadi tanggap darurat akibat cuaca ekstrem, kekeringan, dan karhutla, lalu diturunkan lagi menjadi siaga darurat sejak 2 April 2026 setelah kondisi dinilai lebih terkendali.
Pemerintah kabupaten juga meninjau langsung Pos Tanggap Darurat Karhutla di Lanud Raden Sadjad untuk memastikan kesiapan personel, sarana prasarana, pusat kendali operasi, sistem pemantauan hotspot, dan koordinasi lintas sektor. Dalam evaluasi tersebut, pemerintah menyebut jumlah titik api di beberapa wilayah telah menurun, tetapi seluruh unsur diminta tetap siaga.
Raja Darmika, Kepala Pelaksana BPBD Natuna, “Sekarang status kita siaga darurat. Kegiatan yang kita fokuskan adalah pencegahan dan mitigasi melalui sosialisasi kepada masyarakat serta patroli rutin untuk memantau kondisi di lapangan.” Dari sisi pemerintah daerah, Bupati Natuna menegaskan patroli rutin, edukasi masyarakat, dan monitoring hotspot harus terus dilakukan secara konsisten.
Bagi warga Natuna, dampak kebijakan ini langsung terasa pada pengawasan pembukaan lahan dan peningkatan sosialisasi di wilayah rawan. Pemerintah mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar, terutama ketika vegetasi sedang mengering. Langkah itu penting untuk melindungi permukiman, kebun, dan layanan publik di wilayah perbatasan yang rentan jika kebakaran meluas.
Sebagai pembanding regional, BNPB pada pekan ini juga melaporkan luasan karhutla di Riau terus bertambah hingga 3.456,23 hektare, menandakan ancaman karhutla di Sumatra masih belum bisa dianggap selesai. Apa berikutnya: Natuna akan mempertahankan status siaga darurat, melanjutkan patroli lapangan, dan menjaga koordinasi lintas sektor agar kejadian serupa tidak kembali meluas.






