PALEMBANG – Masyarakat Sumatera Selatan perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kondisi kering selama Agustus 2026. Stasiun Klimatologi Sumatera Selatan BMKG memprediksi seluruh wilayah provinsi tersebut menerima curah hujan kategori rendah sepanjang bulan, yakni sekitar 20–100 milimeter, dengan sifat hujan secara umum berada pada kategori bawah normal.
Prakiraan tingkat kekeringan menunjukkan sebagian besar wilayah Sumatera Selatan berada pada kategori agak kering. Beberapa kawasan bahkan diprediksi masuk kategori kering, termasuk sebagian kecil Lahat bagian utara, Musi Rawas bagian selatan, Ogan Komering Ulu bagian tengah, Banyuasin bagian selatan serta sebagian besar wilayah tengah Kota Palembang. Sementara sejumlah wilayah lainnya diperkirakan masih berada pada kategori normal.
Gambaran itu diperkuat oleh pemantauan iklim menjelang Agustus. Pada akhir Juli, BMKG mencatat sebagian besar wilayah Sumatera Selatan sudah mengalami hari tanpa hujan selama 6–10 hari. Beberapa lokasi di Lahat, Muara Enim, OKU dan Ogan Ilir telah mengalami periode tanpa hujan antara 21–30 hari. Bahkan beberapa kawasan di Muara Enim, Ogan Ilir, OKU Timur dan OKU masuk kategori hari tanpa hujan sangat panjang antara 31–60 hari.
Periode tanpa hujan terpanjang yang terpantau mencapai 40 hari di Pos Hujan Muara Kuang, Kabupaten Ogan Ilir. Pada saat yang sama, BMKG mencatat kondisi atmosfer menunjukkan El Niño dengan intensitas kuat berdasarkan pemantauan parameter ENSO yang digunakan dalam analisis dasarian.
Untuk dasarian pertama Agustus, sebagian besar wilayah Sumatera Selatan diprediksi mempunyai peluang lebih dari 80 persen mengalami curah hujan rendah antara 0–50 milimeter. Peluang hujan menengah masih terdapat di beberapa bagian wilayah barat, termasuk sebagian Musi Rawas Utara, Musi Rawas, Lubuk Linggau, Empat Lawang dan Lahat.
Penurunan curah hujan membawa sejumlah konsekuensi yang perlu diperhatikan. Salah satunya adalah meningkatnya potensi kemunculan titik panas. Kondisi vegetasi dan lahan yang lebih kering dapat membuat api lebih mudah berkembang apabila terjadi pembakaran atau sumber api terbuka, terutama pada kawasan yang memiliki riwayat kebakaran hutan dan lahan. BMKG secara khusus meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla.
Sektor pertanian juga dapat menghadapi tekanan akibat berkurangnya ketersediaan air. Petani perlu menyesuaikan kebutuhan irigasi dengan kondisi sumber air di masing-masing daerah. Sementara masyarakat perkotaan dan perdesaan dapat mulai menggunakan air secara lebih efisien apabila periode tanpa hujan terus berlangsung.
Situasi pada Agustus juga menjadi penting karena kondisi lebih kering tidak berarti seluruh risiko hidrometeorologi hilang. BMKG tetap mengingatkan masyarakat memantau perkembangan cuaca dan iklim karena perubahan lokal masih dapat memunculkan hujan, angin kencang atau kejadian cuaca ekstrem pada waktu tertentu.
Bagi Sumatera Selatan, periode ini perlu menjadi momentum untuk memperkuat kesiapsiagaan karhutla, menjaga sumber air dan mengatur kegiatan yang berpotensi menimbulkan kebakaran. Masyarakat juga sebaiknya tidak melakukan pembakaran terbuka di lahan yang sudah mengering.
Dengan prakiraan hujan rendah dan bawah normal selama Agustus, informasi iklim BMKG dapat menjadi dasar bagi pemerintah daerah, pelaku pertanian, perusahaan perkebunan dan masyarakat untuk mengantisipasi risiko lebih awal sebelum kondisi kekeringan berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.






