PELALAWAN, Minggu, 22 Maret 2026, 09.45 WIB — Kabupaten Pelalawan masih menjadi salah satu fokus utama penanganan kebakaran hutan dan lahan di Riau pada Maret 2026. Tim gabungan terus melakukan pemadaman dan pendinginan di sejumlah titik untuk mencegah api meluas serta menekan risiko kabut asap yang berdampak ke warga.
Data penanganan karhutla menunjukkan Pelalawan menjadi daerah dengan hotspot dan luas lahan terbakar yang menonjol di Riau sejak awal tahun. Dalam pantauan hingga pertengahan Maret, Kementerian Kehutanan mencatat dari 49 hotspot berkepercayaan tinggi di Riau, sebanyak 42 titik berada di Pelalawan. Pada data luasan kebakaran awal tahun, Pelalawan juga tercatat sebagai wilayah terluas terdampak dengan 612,30 hektare.
Di lapangan, pendinginan dilakukan antara lain di Desa Merbau, sedangkan titik lain di Desa Pangkalan Terap, Kecamatan Teluk Meranti, juga dilaporkan masih memerlukan pemadaman. Upaya ini dilakukan agar bara tidak kembali hidup, terutama di lahan gambut yang rawan menyimpan panas di bawah permukaan.
Kepala Manggala Agni Daops VII Rengat Muhammad Ilham Sodik sebelumnya juga menyebut salah satu lokasi kebakaran di Pelalawan berada pada area gambut dan kawasan kantong harimau Sumatra, sehingga pemadaman membutuhkan kehati-hatian tambahan. Kondisi ini membuat operasi darat tidak hanya mengejar pemadaman api, tetapi juga keselamatan petugas di lapangan.
Bagi warga Pelalawan, penanganan cepat penting agar dampak tidak menjalar ke aktivitas harian, kesehatan, dan transportasi. Pemerintah Provinsi Riau sempat menyebut jalur lintas Riau–Sumatra Utara tetap aman tanpa gangguan asap setelah berbagai operasi darat dan dukungan udara dilakukan. Pemerintah daerah juga mendorong warga tidak membuka lahan dengan cara membakar, terutama saat cuaca lebih kering dibanding tahun lalu.
Di tingkat provinsi, Riau telah mengerahkan berbagai langkah, termasuk operasi modifikasi cuaca tahap pertama dengan penyemaian 35 ton garam serta dukungan helikopter patroli dari BNPB. Namun untuk pembaca di Pelalawan, ukuran paling penting tetap sederhana: apakah titik api benar-benar padam, asap tidak masuk ke permukiman, dan aktivitas warga bisa berjalan normal.
Apa berikutnya, warga diimbau segera melapor bila melihat asap atau pembakaran terbuka di kebun dan lahan sekitar. Pemerintah juga diharapkan terus memperbarui informasi per kecamatan agar penanganan tak hanya terdengar di level provinsi, tetapi terasa langsung sampai ke desa-desa rawan karhutla.






