AGAM/SUMATERA BARAT, Sabtu, 23 Mei 2026, 12.00 WIB — Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Barat mengevakuasi satu harimau sumatra dari kandang jebak di Batang Palupuh, Kabupaten Agam, setelah satwa dilaporkan beberapa kali muncul dekat sawah dan kebun warga.
Harimau sumatra atau Panthera tigris sumatrae itu masuk kandang jebak di Batang Palupuh, Nagari Koto Rantang, Kecamatan Palupuh, pada Jumat, 22 Mei 2026. Lokasi tersebut menjadi perhatian karena sebelumnya warga di sejumlah kecamatan melaporkan kemunculan harimau di area aktivitas pertanian.
Kepala Resor Konservasi Wilayah II Maninjau BKSDA Sumbar, Ade Putra, menyebut harimau masuk kandang jebak sekitar pukul 02.30 WIB berdasarkan kamera jebak. Petugas baru memastikan kondisi satwa pada Jumat sekitar pukul 09.00 WIB, lalu menyiapkan evakuasi bersama unsur terkait.
Ade Putra, Kepala Resor Konservasi Wilayah II Maninjau BKSDA Sumbar, “Sesampai di kantor, harimau bakal dilakukan observasi dan apabila sehat maka langsung ditranslokasi ke lokasi lebih aman.”
Evakuasi melibatkan petugas BKSDA Sumbar, Patroli Anak Nagari, Polsek Palupuh, Koramil Palupuh, dan warga setempat. Keterlibatan masyarakat penting karena konflik satwa liar sering terjadi di kawasan peralihan antara habitat harimau, kebun, dan permukiman.
Bagi warga Palupuh dan sekitarnya, penanganan ini belum berarti risiko selesai. BKSDA menyebut tim masih berada di lokasi untuk pemantauan lanjutan karena ada temuan indikasi individu harimau lain di sekitar area kandang jebak.
Sebelumnya, kandang jebak dipasang sejak Rabu, 20 Mei 2026, setelah rangkaian laporan kemunculan harimau di Agam. Pemerintah nagari dan masyarakat diminta menghindari aktivitas sendirian di kebun atau sawah pada waktu rawan, terutama pagi dan sore hari.
Warga diminta segera melapor ke aparat nagari, BKSDA, atau kepolisian jika melihat jejak, suara, atau kemunculan harimau. Warga juga diminta tidak memasang jerat karena dapat membahayakan satwa dilindungi dan manusia.






