Fatih Architecture Studio Banner
Fatih Architecture Studio Banner

Desa Pertik Gayo Lues Kembali Dilanda Banjir

Air belum sepenuhnya surut saat tim reaksi cepat turun ke lapangan

Ilustrasi luapan sungai (Long Bà Mùi)
Ilustrasi luapan sungai (Long Bà Mùi)

BLANGKEJEREN, Jumat, 3 April 2026, 09.20 WIB — Desa Pertik, Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo Lues, Aceh, kembali dilanda banjir luapan sungai setelah hujan deras mengguyur kawasan itu sejak sore. BPBA melaporkan rumah warga, mushala, dan sekolah terdampak, sementara data korban terdampak dan pengungsi masih didata petugas.

Menurut laporan BPBA, luapan berasal dari Sungai Aih Kulit yang melintas di tengah desa. Ketinggian air disebut mencapai setinggi lutut orang dewasa. Hingga pagi setelah kejadian, air dilaporkan belum sepenuhnya surut, sehingga BPBD Gayo Lues mengerahkan satu regu tim reaksi cepat untuk membantu penanganan dan pendataan di lokasi. Kecamatan Pining sendiri termasuk wilayah yang berjarak relatif jauh dari ibu kota kabupaten, sehingga respons lapangan sangat bergantung pada akses dan kecepatan koordinasi.

Bangunan yang terdampak antara lain SMAN 1 Pining, mushala Desa Pertik, dan 10 rumah warga. Sampai laporan terakhir, tidak ada korban jiwa. Namun, pemerintah belum merilis angka final untuk warga terdampak maupun jumlah pengungsi, sehingga fokus penanganan masih berada pada asesmen cepat, bantuan awal, dan pemantauan tinggi muka air.

Baca Juga:  Ribuan Pendukung Al-Farlaky Ramaikan KIP Aceh Timur

Bahron Bakti, Kepala BPBA, menyampaikan, “Hujan lebat menyebabkan meluapnya air sungai Aih Kulit yang berada di tengah-tengah Desa Pertik. Ketinggian air setinggi lutut orang dewasa.” Ia menambahkan, tim di lapangan terus membantu penanganan, sementara pendataan korban terdampak dan pengungsi masih berlangsung.

Bagi warga Pining, banjir seperti ini berdampak langsung pada layanan dasar. Saat sekolah, rumah ibadah, dan rumah tinggal terendam dalam waktu bersamaan, gangguan yang muncul bukan hanya kerusakan fisik, tetapi juga terhambatnya kegiatan belajar, ibadah, distribusi kebutuhan rumah tangga, dan mobilitas harian. Kondisi itu menjadi lebih sensitif karena akses dari wilayah pedalaman memerlukan waktu tempuh lebih panjang dibanding kecamatan yang lebih dekat ke pusat kabupaten.

Baca Juga:  Upacara Pembukaan PON XXI 2024 Hanya untuk Tamu Undangan

Apa berikutnya? Pemerintah daerah perlu menuntaskan pendataan warga terdampak, memastikan lumpur dibersihkan dari fasilitas umum, dan menyiapkan kebutuhan darurat bila hujan kembali turun. Warga diminta menjauh dari bibir sungai saat hujan lebat, mengamankan dokumen penting, serta memantau informasi resmi dari BPBA, BPBD Gayo Lues, dan aparatur desa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *