PADANG PARIAMAN, Sabtu, 11 April 2026, 21.30 WIB — Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman meresmikan enam jembatan yang dibangun dari hasil efisiensi anggaran. Proyek ini menjadi penanda bahwa pemulihan konektivitas warga tetap diprioritaskan, terutama pada wilayah yang selama bertahun-tahun terdampak kerusakan infrastruktur.
Enam jembatan tersebut tersebar di empat kecamatan dan dipusatkan peresmiannya di Kecamatan Batang Gasan. Menurut pemerintah daerah, jembatan-jembatan itu sebelumnya mengalami kerusakan sejak sekitar lima sampai enam tahun lalu. Peresmian ini penting karena jembatan bukan sekadar proyek fisik, melainkan akses harian warga untuk sekolah, layanan kesehatan, pasar, dan distribusi hasil pertanian.
Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman mencatat total anggaran pembangunan keenam jembatan mencapai Rp 3.982.807.279. Di tengah kebijakan efisiensi anggaran yang berlangsung sejak 2025 hingga 2026, besaran anggaran itu menunjukkan fokus belanja diarahkan pada kebutuhan paling mendasar dan paling cepat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Bupati Padang Pariaman John Kenedy Azis menegaskan pembangunan tersebut merupakan bentuk keberpihakan pemerintah daerah terhadap kebutuhan dasar masyarakat. Dalam peresmian, ia juga menyampaikan bahwa jembatan-jembatan tersebut sebelumnya rusak cukup lama. Pernyataan itu menggarisbawahi bahwa perbaikan infrastruktur penghubung masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi banyak kabupaten di Sumatra yang memiliki bentang sungai dan akses antarnagari cukup tinggi.
Bagi warga, dampak paling cepat dari jembatan yang kembali berfungsi adalah berkurangnya waktu tempuh dan biaya angkut. Jalur yang semula memaksa warga memutar atau menunda distribusi hasil tani kini bisa dibuka kembali. Untuk pelaku UMKM desa, konektivitas yang pulih juga berarti rantai pasok lebih lancar, biaya logistik lebih terkendali, dan aktivitas ekonomi setempat lebih cepat bergerak.
Konteks yang lebih luas, Padang Pariaman dan wilayah Sumbar lain masih berada dalam fase penguatan infrastruktur pascabencana dan efisiensi fiskal. Karena itu, penyelesaian proyek-proyek penghubung seperti jembatan menjadi indikator penting apakah pemerintah daerah sanggup menjaga layanan dasar tanpa menunggu proyek besar skala pusat.
Pemerintah daerah perlu memastikan enam jembatan ini diikuti audit fungsi, pemeliharaan rutin, serta penetapan prioritas titik rusak lain yang belum tertangani. Untuk warga, manfaat terbesar akan terasa bila akses penghubung ini dibarengi perbaikan jalan pendekat, drainase, dan pengamanan tebing di sekitar badan jembatan.






