BANDA ACEH — Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I mencatat progres penanganan tanggap darurat bencana pada infrastruktur sumber daya air di Aceh telah mencapai 92,06 persen. Pekerjaan difokuskan pada pemulihan fungsi sungai, muara, tebing sungai, dan jaringan irigasi yang terdampak.
Data tersebut disampaikan Kepala BWS Sumatera I Asyari di Banda Aceh pada Jumat (11/9/2026). Menurut laporan ANTARA, penanganan darurat diarahkan untuk mengembalikan fungsi infrastruktur sumber daya air sebelum masuk ke tahap rehabilitasi dan rekonstruksi.
Jenis pekerjaan yang dilakukan meliputi pembersihan dan normalisasi sungai serta muara, perkuatan tebing dan tanggul, hingga pembersihan lumpur pada jaringan irigasi. Langkah itu ditujukan agar aliran air kembali berfungsi dan risiko kerusakan lanjutan dapat ditekan.
Di sejumlah daerah, penanganan fisik tanggap darurat telah mencapai 100 persen. BWS Sumatera I menyebut Aceh Barat, Gayo Lues, dan Aceh Tenggara termasuk wilayah yang pekerjaan daruratnya telah diselesaikan, terutama untuk perkuatan tebing atau tanggul serta normalisasi sungai.
Penyelesaian pekerjaan darurat bukan akhir dari pemulihan. Setelah tahap ini ditutup, BWS Sumatera I akan melanjutkan pekerjaan melalui program rehabilitasi dan rekonstruksi dengan cakupan lebih menyeluruh, mulai dari bagian hulu daerah aliran sungai hingga kawasan hilir.
Dalam rencana tersebut, pekerjaan di hulu antara lain mencakup pembangunan sabo dam untuk membantu mengendalikan material sedimen dan aliran dari kawasan atas. Sementara itu, di bagian sungai dan hilir, pekerjaan akan mencakup penguatan tebing serta penanganan muara yang dinilai membutuhkan perbaikan lebih permanen.
Program rehabilitasi dan rekonstruksi direncanakan berlangsung selama tiga tahun hingga 2028. Periode itu memberi ruang bagi penanganan yang tidak hanya memperbaiki kerusakan pascabencana, tetapi juga meningkatkan ketahanan infrastruktur air terhadap kejadian serupa di masa depan.
Bagi masyarakat di sekitar sungai, keberlanjutan pekerjaan menjadi penting karena fungsi tanggul, tebing, muara, dan jaringan irigasi berkaitan langsung dengan perlindungan permukiman, lahan pertanian, dan akses air. Infrastruktur yang belum pulih sepenuhnya dapat memperbesar dampak saat debit air meningkat atau hujan ekstrem kembali terjadi.
BWS Sumatera I memiliki wilayah kerja yang mencakup sejumlah wilayah sungai di Aceh, antara lain Aceh–Meureudu, Woyla–Bateue, Jambo Aye, dan Alas–Singkil. Karena itu, proses pemulihan tidak hanya berpusat pada satu kabupaten, tetapi tersebar pada beberapa daerah dengan karakter sungai dan tingkat kerusakan yang berbeda.
Angka 92,06 persen hanya mencerminkan progres penanganan tanggap darurat, bukan selesainya seluruh pemulihan sungai Aceh. Tahap berikutnya beralih ke rehabilitasi dan rekonstruksi yang direncanakan berjalan hingga 2028.
Pemantauan berikutnya akan bertumpu pada dua hal konkret: penyelesaian sisa pekerjaan darurat dan dimulainya paket rehab-rekon di lokasi prioritas. Jadwal, lokasi, dan realisasi fisik paket tersebut akan menentukan seberapa cepat perlindungan sungai, tanggul, muara, dan irigasi beralih dari respons sementara ke pemulihan jangka panjang.
Foto: Ilustrasi sungai di Indonesia. Tom Fisk/Pexels.






