AGAM — Air bah dari kawasan hulu Gunung Marapi menerjang lokasi pembangunan jembatan di Nagari Bukik Batabuah, Kecamatan Canduang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Aliran besar yang datang pada Kamis (10/9/2026) sekitar pukul 12.30 WIB membawa material kayu dan batu serta membuat pekerjaan jembatan sempat dihentikan sementara.
Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Wali Nagari Bukik Batabuah, Firdaus, mengatakan aliran air bergerak dari kawasan hulu menuju sungai di lokasi pembangunan. Material kayu dan batu yang terbawa membuat arus lebih berbahaya bagi pekerja dan peralatan proyek.
Menurut laporan ANTARA Sumatera Barat, kawasan Simpang Bukik Batabuah tidak sedang diguyur hujan ketika air bah datang. Hujan deras justru dilaporkan terjadi di sekitar Gunung Marapi dan Batang Selasih, sehingga peningkatan debit dari hulu tidak langsung terlihat dari kondisi cuaca di lokasi proyek.
Sebelum aliran besar tiba, pihak nagari memperoleh informasi mengenai kenaikan debit dari arah Nagari Sungai Pua. Informasi tersebut kemudian disertai rekaman video yang digunakan sebagai peringatan agar warga dan petugas di hilir meningkatkan kewaspadaan.
Besarnya arus membuat pekerjaan pembangunan jembatan dihentikan sementara untuk mengurangi risiko terhadap pekerja dan peralatan. Menjelang Kamis sore, debit sungai dilaporkan mulai kembali normal. Pekerjaan direncanakan dilanjutkan setelah kondisi sungai dinilai aman.
Jembatan di Bukik Batabuah merupakan bagian dari pemulihan akses setelah kawasan tersebut terdampak galodo dan banjir lahar hujan Gunung Marapi pada 11 Mei 2024. Karena itu, gangguan pada pekerjaan jembatan memiliki dampak langsung terhadap proses pemulihan konektivitas warga di kawasan yang sebelumnya telah mengalami kerusakan berat.
Catatan BNPB menunjukkan bencana galodo Sumatera Barat pada Mei 2024 menyebabkan 62 orang meninggal dunia hingga pemutakhiran 23 Mei 2024. Nagari Bukik Batabuah termasuk salah satu kawasan Agam yang terdampak banjir lahar hujan dari Gunung Marapi.
Bagi warga, gangguan pada proyek jembatan berarti proses pemulihan akses masih rentan terhadap perubahan debit dari hulu. Karena lokasi pekerjaan berada di koridor sungai bekas bencana, keputusan melanjutkan konstruksi harus mengikuti kondisi aliran dan keselamatan pekerja.
Kejadian terbaru menunjukkan bahwa kondisi cuaca di hilir tidak selalu mencerminkan situasi di kawasan hulu. Pemantauan curah hujan di lereng Marapi, debit sungai, dan informasi lintas nagari menjadi penting terutama ketika pekerjaan konstruksi masih berlangsung di koridor sungai.
Pemantauan selanjutnya terfokus pada dua hal: kestabilan debit Sungai Bukik Batabuah dan keputusan pemerintah nagari serta pelaksana proyek untuk melanjutkan pekerjaan. Jika hujan kembali terjadi di kawasan hulu Marapi dan debit meningkat, aktivitas konstruksi dapat dihentikan lagi sampai kondisi dinilai aman.
Featured image: ilustrasi AI untuk kepentingan editorial, bukan dokumentasi kejadian sebenarnya.






