BANDA ACEH – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia mengalami curah hujan rendah sepanjang Agustus 2026. Kondisi serupa diperkirakan terjadi di banyak wilayah Pulau Sumatra, termasuk sejumlah kabupaten dan kota di Aceh.
Dalam prediksi curah hujan bulanan BMKG, sekitar 71,55 persen wilayah Indonesia masuk kategori curah hujan rendah atau sekitar 0–100 milimeter per bulan pada Agustus. Sementara sekitar 28,31 persen masuk kategori menengah, 0,14 persen kategori tinggi, dan tidak ada wilayah yang diprediksi masuk kategori sangat tinggi dalam proyeksi tersebut.
Di Aceh, wilayah yang diperkirakan dominan mengalami curah hujan rendah antara lain Aceh Besar, Kota Banda Aceh, dan Kota Sabang. Kondisi serupa juga diproyeksikan pada sejumlah wilayah Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, hingga Kepulauan Bangka Belitung.
Di Sumatera Barat, sejumlah daerah seperti Pesisir Selatan, Solok, Sijunjung, Solok Selatan, dan Dharmasraya tercantum dalam wilayah dengan kecenderungan hujan rendah. Sementara hampir seluruh wilayah Jambi juga masuk dalam daftar tersebut, termasuk Kerinci, Sungai Penuh, Bungo, Merangin, Tebo, Kota Jambi, dan beberapa kabupaten lainnya.
Prediksi tersebut penting diperhatikan karena rendahnya curah hujan dalam periode cukup panjang dapat memengaruhi ketersediaan air, pertanian, serta risiko kebakaran lahan dan hutan di sejumlah wilayah.
Namun, prediksi curah hujan bulanan tidak berarti hujan sama sekali tidak akan terjadi. Kondisi atmosfer dapat berubah dalam skala harian maupun mingguan sehingga masyarakat tetap perlu memperhatikan prakiraan cuaca dan peringatan dini yang diterbitkan BMKG.
Bagi sektor pertanian, informasi iklim dapat digunakan sebagai salah satu dasar pengaturan pola tanam dan penggunaan air. Sementara bagi masyarakat perkotaan, periode dengan curah hujan rendah juga dapat meningkatkan kebutuhan terhadap pengelolaan air yang lebih efisien.
BMKG secara berkala memperbarui informasi cuaca dan iklim berdasarkan perkembangan atmosfer. Karena itu, masyarakat di Sumatra disarankan tetap mengikuti pembaruan resmi, terutama apabila beraktivitas di sektor yang sensitif terhadap perubahan cuaca seperti pertanian, pelayaran, perikanan, dan transportasi.






